Imam Syafi'i Senin, 21 Maret 2011

Syaikh ‘Ali Mahfudzh dalam bukunya menerangkan, “Ada yang mengatakan bahwa yang pertama kali mengadakannya ialah para Khalifah Bani Fahimiyyah di Kairo pada abad keempat Hijriyah. Mereka merayakan perayaan bid’ah enam maulid, yaitu: Maulid Nabi saw, Maulid Imam ‘Ali ra, Maulid Sayyidah Fathimah Az-Zahra radhiallahu ‘anha, Maulid Al-Hasan dan Al-Husein dan maulid Khalifah yang sedang berkuasa.
Perayaan tersebut terus berlangsung dalam berbagai bentuknya sampai dilarang pada zaman pemerintahan Al-Afdhal Amirul Juyusy. Perayaan ini kemudian dihidupkan kembali di zaman pemerintahan Al-Hakim biamrillah pada tahun 524 Hijriyah setelah orang-orang hampir melupakannya. Dan yang pertama kali maulid Nabi dikota Irbil adalah Raja Al-Mudhaffar Abu Said di abad ketujuh dan terus berlangsung sampai di zaman kita ini. Orang-orang memperluas acaranya dan menciptakan bid’ah-bid’ah sesuai dengan selera hawa nafsu mereka yang diilhamkan oleh syaithan , jin dan manusia kepada mereka.” [Al-Ibda’ fi madhiril ibtida’: 126].
Satu hal yang sangat penting untuk diketahui bahwa Kerajaan Fathimiyyah didirikan oleh ‘Ubaidillah Al-Mahdi tahun 298 H di Maghrib (sekarang wilayah Maroko dan Aljazair) sedangakan di Mesir kerajan ini didirikan pada tahun 362 H oleh Jauhar As-Shaqali. Para pendiri dan raja-raja kerajaan ini beragama Syi’ah Islmailiyah Rafdliyah. Kerajaan ini didirikan sebagai misi dakwah agama tersebut dan merusak Islam dengan berkedok kecintaan terhadap Ahlul Bait (keluarga Nabi saw). Maka jelaslah sudah bagi mereka yang memiliki bashirah bahwa perayaan maulid dipelopori oleh kaum Syi’ah.
Hari lahir Nabi memang istimewa, akan tetapi…..
Tentang keistimewaan hari lahir Nabi saw, terdapat hadits shahih dari Abi Qatadah, beliau menceritakan bahwa seorang A’rabi (Badawi) bertanya kepada Rasulullah saw: “Bagaimana penjelasanmu tentang berpuasa di hari Senin? maka Rasulullah saw menjawab, ‘Ia adalah hari aku dilahirkan dan hari diturunkan kepadaku Al-Qur’an” [Syarh Shahih Muslim An-Nawawi 8 / 52]. Hari kelahiran Nabi adalah istimewa berdasarkan hadits tersebut, akan tetapi tidak terdapat dalam hadits tersebut perintah untuk merayakannya. Seandainya kita setuju dengan istilah “merayakan”, maka seharusnya kaum Muslimin merayakannya dengan berpuasa sebagaimana tersurat dalam hadits tersebut. Bukannya merayakan dengan berfoya-foya dan pesta arak-arakan seperti yang kita saksikan saat ini.
ANALISA DAMPAK PERAYAAN MAULID
Praktek Kesyirikan yang tidak Disadari
Kenyataan yang ada, bahwa pada sebagian kaum Muslimin dalam merayakan maulid mereka membacakan Barzanji, sebuah ritual membacakan puji-pujian kepada Nabi saw yang di dalamnya juga terdapat jentik-jentik kesyirikan dan pujian yang melampaui batas Syari’at terhadap Nabi saw (ithra’), namun mereka menganggap itu sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah. Hal ini membuat sebuah praktek kesyirikan menjadi terselubung dalam nuansa yang dianggap ibadah. Lebih jelas lagi tentang hal ini kami cantumkan dalam rubrik “STUDI KRITIS” Tentang pujian yang melampaui batas, Rasulullah saw bersabda : “Janganlah kalian berlebihan memujiku sebagaimana orang-orang Nashrani berlebihan memuji putera Maryam. Aku tidak lain hanyalah seorang hamba, maka Katakanlah hamba Allah dan Rasul-Nya.” [HR. Bukhari dari ‘Umar ra]
Inilah dampak yang terbesar dan tercantum di urutan pertama dari sekian kerusakan dalam ritual perayaan maulid. Karena perbuatan Syirik menghapus seluruh amal seorang hamba sebagaimana firman-Nya : “Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepada kamu (Hai Muhammad) dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu, ‘Jika engkau berbuat syirik niscaya akan hapus amalmu dan niscaya engkau termasuk golongan orang-orang yang merugi.” [QS. Az-Zumar : 65].
Kaum Muslimin yang terlibat dalam pembacaan Barzanji tersebut juga meyakini datangnya ruh Muhammad sehingga mereka menyambutnya dengan berdiri. Ini adalah I’tiqad yang keliru dan melampaui batas terhadap Nabi saw . Keyakinan seperti ini bertentangan dengan firman Allah : “Kemudian, sesudah itu sesungguhnya kamu sekalian benar-benar akan mati, kemudian sesungguhnya kamu sekalian akan dibangkitkan (dari kuburmu) di hari kiamat.” [Al-Mukminun : 15-16]. Bertentangan pula dengan sabda Rasulullah saw : “Aku adalah orang yang pertama kali dibangkitkan dari kubur pada hari kiamat nanti, Aku adalah orang yang pertama kali memberi Syafa’at dan orang yang pertama kali diterima Syafa’atnya” Berkata Imam Ibnu Baaz setelah membawakan dua dalil tersebut, “Ayat dan Hadits di atas serta nash-nash lain yang semakna bahwa Nabi Muhammad saw dan siapapun yang sudah mati tidak akan bangkit kembali dari kuburnya, kecuali pada hari kiamat. Hal ini merupakan kesepakatan para ‘ulama Muslimin, tidak ada pertentangan diantara mereka”. [At-Tahdziru minal Bida’ oleh Syaikh Abdul ‘Aziz Abdullah bin Baaz].
Mendahului Allah dan Rasul-Nya dalam menetapkan Syari’at
Ini dikarenakan Allah dan Rasul-Nya tidak pernah menetapkan dalam Syari’at untuk beribadah dengan merayakan hari kelahiran Nabi. Perbuatan sebagian kaum Muslimin melakukan ritual dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah dengan sesuatu yang tidak ada contohnya dari Rasulullah dan Sahabat jelas merupakan sikap mendahului Allah dan Rasulullah dalam menetapkan Syari’at. Sedangkan Allah berfirman : “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya…”[Al-Hujurat :1].
Maksudnya adalah, orang-orang Mukmin tidak boleh menetapkan sesuatu hukum, sebelum ada ketetapan dari Allah dan Rasul-Nya. Bagaimana pendapat Anda ? Jika Raja alam semesta ini menetapkan suatu aturan bagi kebahagian hambanya, kemudian Sang Raja menyatakan bahwa aturan-Nya itu telah sempurna. Lalu datanglah seorang hamba dengan membawa aturan baru yang dianggapnya baik bagi dirinya dan bagi hamba yang lain. Tidakkah ia (si hamba) tanpa disadari telah lancang menuduh aturan Sang Raja belum sempurna, sehingga perlu ditambahi ? Inilah hakikat Bid’ah, menyaingi bahkan mengambil hak Allah dalam menetapkan Syari’at. Padahal Allah berfirman: “Apakah mereka mempunyai sesembahan-sesembahan selain Allah yang mensyari’atkan untuk mereka (aturan) agama yang tidak diizinkan Allah ?” [Asy-Syuura :21].
Kita tak akan pernah menemukan adanya perayaan hari ulang tahun Nabi oleh para Sahabat terekam dalam lembaran-lembaran kitab hadits yang shahih, karena memang itu tidak pernah terjadi pada masa Sahabat baik tabi’in, tabi’ut tabi’in dan bahkan tidak pernah terjadi pada masa Imam Syafi’ie (150 H – 204 H). Karena bid’ah maulid baru muncul pada abad ke-4 H. Kalau memang peringatan Maulid itu baik maka tentunya para sahabat telah mendahului kita melakukannya sebagaimana kata ulama : “walau kaana khairan lasabaquunaa ilaihi”
Munculnya wujud rasa cinta yang keliru
Perayaan maulid oleh sebagian kaum Muslimin dianggap sebagai bentuk ungkapan rasa cinta terhadap Nabi yang paling mulia Muhammad saw. Jika ini benar, siapakah diantara kita di zaman ini yang lebih dalam cintanya kepada Nabi ketimbang Sahabat ?. Tidak ada pilihan lain bagi kita kecuali menjawab “Sahabatlah yang paling dalam cintanya kepada Nabi”. Jika memang demikian, lalu mengapa para Sahabat tidak mewujudkan rasa cinta kepada Nabi dengan cara merayakan hari kelahiran Nabi sebagaimana sebagian muslim di zaman ini ? Mengapa para Sahabat tidak mengarang bait-bait syair untuk memuji Nabi di hari kelahirannya ? Mengapa pula para Sahabat tidak membentuk “Panitia Lomba Maulid” untuk memeriahkan HUT manusia terbaik di muka bumi ini? “Tunjukkanlah bukti kalian, jika kalian orang-orang yang benar” [Al-Baqarah : 111].
Sesungguhnya Ahlussunnah meyakini bahwa yang terpenting adalah bagaimana menjadi mukmin yang dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya. Karena ungkapan cinta kepada Allah dan Rasul-Nya bisa juga diucapkan oleh orang-orang munafik, akan tetapi mereka bukan orang-orang yang dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya. Dan mustahil mendapatkan kecintaan Allah kecuali dengan mengikuti Sunnah Nabi yang mulia. Allah berfirman : “Katakanlah ; ‘jika kalian mencintai Allah, ikutilah aku (Muhamad)! Niscaya Allah akan mencintai kalian dan mengampunkan dosa-dosa kalian. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang ” [QS.Ali-‘Imran: 31].
Bukannya kebaikan, justru sebaliknya
Tidak asing telinga kita mendengar hentakan-hentakan musik yang hingar bingar pada setiap tahunnya di bulan Rabiul Awwal dalam aneka ragam perayaan maulid. Alunan-alunan musik tersebut tidak jarang disertai juga oleh pemuda-pemuda mabuk yang bergoyang bersama mengikuti irama lagu. Bahkan musik-musik tersebut diperdengarkan di rumah Allah yang di dalamnya digunakan untuk bersujud kepada-Nya. (hanya kepada Allah memohon pertolongan dari kerusakan ini). Allah berfirman : “Dan diantara manusia ada yang menggunakan “lahwal hadits” untuk menyesatkan manusia dari jalan Allah tanpa ilmu dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh azdab yang menghinakan ” [Luqman : 6]. Ibnu Mas’ud ra menafsirkan lahwal hadits dalam ayat tersebut adalah “nyanyian atau lagu”. [lih. Tafsir Ibnu Katsier Surat Luqman].
Jati diri Islam menjadi luntur, karena mengekor pada Nashrani
Maulid pada hakikatnya meniru Nashrani dalam hal merayakan hari kelahiran Nabi Isa yang mereka sebut dengan Natal. Kita, ummat Muhammad dilarang keras menyerupai Yahudi dan Nashrani apalagi meniru-niru ritual agama mereka. Allah berfirman : “Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti keinginan mereka (Yahudi dan Nashrani) setelah datang kepadamu ilmu, sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk golongan orang-orang yang zhalim.” [Al-Baqarah :145]. Yang dimaksud ayat ini menurut Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah adalah “meniru sesuatu yang menjadi ciri khas mereka, atau yang merupakan bagian dari ajaran Agama mereka” [Iqtidha’ shirathal mustaqim T. / 63-64]. Rasulullah juga bersabda : “Barang siapa menyerupai suatu kaum, berarti ia termasuk golongan kaum itu” [Ahmad dan Abu Dawud, shahih].
Kecenderungan bersikap tabdzir (menghamburkan harta secara mubazzir)
Bisa dibayangkan dana yang dikeluarkan oleh sebagian kaum muslimin yang merayakan maulid, andaikata dana-dana tersebut disedekahkan kemudian dikorbankan untuk berjihad di jalan Allah niscaya hal itu akan lebih bermanfaat ketimbang menggunakannya sebagai penyokong bid’ah yang tidak bernilai ibadah di sisi Allah. Bahkan diantara mereka ada yang sampai memberatkan diri untuk berhutang kepada saudara muslim lainnya. Ini adalah sikap mubazzir yang dapat menghantarkan kita menjadi saudara-saudara syaitan sebagaimana yang disebut oleh Al-Qur’an “…dan janganlah kamu menghamburkan hartamu secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar pada Tuhannya” [Al-Isra’ :26-27].
Membantu penyebaran hadits palsu
Perlu diketahui bahwa banyak beredar di tengah ummat hadits-hadits tentang keutamaan merayakan hari kelahiran Nabi. Dan semuanya adalah palsu tidak ada keraguan padanya. Kami tidak akan menyebutkannya karena di sini bukanlah tempatnya. Di bulan Rabiul Awwal ini selalu disampaikan hadits-hadits tentang keutamaan maulid di atas-atas mimbar maupun pada saat acara perayaan dilangsungkan, ini tentu saja membantu menyebarkan kedustaan atas nama Rasulullah. Sedangkan Rasul bersabda :“Barang siapa mengatakan sesuatu atas namaku sesuatu yang tidak aku katakan maka hendaklah ia mengambil tempat duduknya dalam neraka.” [Hadits Hasan riwayat Ahmad].
Persatuaan Islam yang semu
Sebagian kaum Muslimin masih berusaha melakukan pembelaan terhadap perayaan maulid dengan berkata : “Ini adalah momen yang istimewa untuk mempererat ukhuwah, silaturahmi dan menyemarakkan sedekah antara saudara Muslim. Jadi tidak ada salahnya kita merayakan maulid dengan kemeriyahannya”.
Untuk menjawab ungkapan ini kita kembali kepada kaidah yang sangat kokoh bahwa generasi pertama ummat ini adalah sebaik-baik generasi, berdasarkan hadits “Sebaik-baik manusia adalah pada zamanku (Sahabat), kemudian yang sesudahnya (tabi’in) kemudian yang sesudahnya (tabi’ tabi’in)” [HR. Bukhari].
Berangkat dari kaidah ini kita katakan bahwa para Sahabat adalah orang-orang yang paling kokoh ukhuwah dan silaturahminya terhadap saudara Muslim. Barisan shaf mereka rapat, bersambung dari bahu kebahu dari tumit ke tumit dan kokoh dihadapan Rabbul ‘alamin sewaktu mereka berdiri, ruku’ dan sujud. Jiwa-jiwa mereka bersatu di medan jihad. Begitu pula sedekah mereka tidak berbicara sebagaimana orang-orang di zaman ini. Dan tidaklah itu semua dikarenakan oleh perayaan maulid Nabi, tidak pula oleh aneka lomba dan permainan yang mereka adakan setiap Rabiul Awwal. Giliran kami yang bertanya, jika maulid adalah jembatan menuju persatuan Islam dan ukhuwah Islamiyah yang kokoh, lalu apa gerangan yang mengakibatkan kaum Muslimin sampai saat ini masih terkotak-kotak karena berpecah belah ? Padahal perayaan maulid telah berlangsung lebih dari sepuluh abad. Hanya kepada Allah kita kembali dan hanya kepada-Nya kita memohon pertolongan dari badai syubhat dan syahwat yang menerpa.
Sumber Bacaan:
- Idtidho Shitothol Muataqim
– Tahdziiru Minal Bida’

Imam Syafi'i Jumat, 18 Maret 2011


Para pembaca yang budiman, Islam adalah agama yang sempurna (kamil) dan komprehensif (syumul). Islam mengatur mulai dari perkara yang paling kecil hingga masalah yang paling besar. Apabila di dalam istinja’ (bersuci dari buang hajat) saja Islam telah mengatur-nya, terlebih lagi di dalam perkara-perkara yang lebih besar darinya. Demikian pula dengan penyelenggaraan akad nikah dan walimah (resepsi), Islam telah memberikan aturan-aturan yang jelas agar acara pernikahan menjadi meriah dan berbarakah. Alloh  berfirman :
“Pada hari ini telah Aku sempurnakan bagi kalian agama ini dan Aku sempurnakan bagi kalian nikmat-Ku dan Aku ridhai Islam sebagai agama kalian.” (QS Al-Maidah : 3)
Imam Malik Rahimahullah (semoga Alloh merahmati-nya) berkata :
َفمَا َلمْ يَ ُ كنْ يَوْمَئِذٍ دِيْنًا َف َ لا يَكُوْنُ الْيَوْمَ دِيْنًا.
“Maka segala hal yang tidak termasuk agama pada hari itu (yakni hari ketika ayat ini diturunkan), maka tidaklah termasuk dalam agama pada hari ini pula.”
Oleh karena itu, bagi seorang muslim yang yakin akan kebenaran agamanya dan cinta terhadap Tuhannya dan Rasul-Nya , haruslah berpegang dan berpetunjuk dengan ajaran agamanya. Sebagaimana dalam firman Alloh : “Tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan bagi perempuan yang mukminah, apabila Allah dan
RasulNya telah menetapkan sesuatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan RasulNya maka sungguhlah dia talah sesat, kesesatan yang nyata” (Al Ahzab : 36).

WAJIBNYA MENELADANI RASULULLAH 

ebaik-baik makhluk di muka bumi ini adalah Rasulullah Muhammad , oleh karena itu meneladani makhluk terbaik adalah suatu keharusan, sebagai-mana dalam firman Alloh Subhanahu Wa Ta'ala: “Dan segala yang dibawa Rasul kepadamu maka ambillah dan segala apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah.” (QS Al-Hasyr : 7)
Dan firman-Nya :
“Sesungguhnya telah ada pada diri Muhammad itu tauladan yang baik, yaitu bagi orang-orang yang berharap perjumpaan dengan Alloh dan hari akhir dan dia banyak menyebut nama Alloh” (QS Al-Ahzab: 21)
Wajib bagi setiap muslim untuk meneladani apa yang diterangkan oleh Nabi yang mulia  dalam segala perkara, termasuk pula di dalam hal pernikahan dan penyelenggaraan walimah.

SEMARAKKAN DUNIA DENGAN PERNIKAHAN
Maha suci Alloh  yang telah menjadikan dunia semakin semarak dengan menciptakan makhluk-Nya berpasang-pasangan. Alloh f berfirman : “Dan segala sesuatu kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat kebesaran Allah.” (Adz-Dzariyat : 49)
Sungguh indah apa yang diutarakan oleh Imam Ibnu Qutaibah Radhiyallahu 'Anhu : “Hikmah dan qudrah takkan sempurna melainkan dengan menciptakan lawannya agar masing-masing diketahui dari pasangannya. Cahaya diketahui dengan adanya kegelapan, ilmu diketahui dengan adanya kebodohan, kebaikan diketahui dengan adanya keburukan, kemanfaatan diketahui dengan adanya kemudharatan, dan rasa manis diketahui dengan adanya rasa pahit.”
Sekiranya Alloh Subhanahu Wa Ta'ala tidak menciptakan rasa pahit niscaya kita takkan dapat merasakan
nikmatnya manis, demikian pula sekiranya Alloh tidak menciptakan makhluk-Nya dengan
berpasang-pasangan, niscaya dunia akan menjadi sepi dan membosankan. Pernikahan merupakan sunnah Allah bagi alam semesta. Seluruh bangsa tumbuhan dan hewan melakukan perkawinan. Alloh  mengagungkan manusia dengan menganugerahkan akal dan hati. Yang dengannya manusia terbedakan dengan makhluk lainnya. Alloh Subhanahu Wa Ta'ala membedakan perkawinan manusia dengan makhluk lainnya dengan menurunkan aturan2 dan koridor yang harus dipenuhi oleh manusia.
KEUTAMAAN MENIKAH
Pernikahan adalah kebaikan hakiki bagi pria dan wanita, dimana di dalam pernikahan terdapat ketenangan, ketentraman dan kebahagiaan. Pernikahan akan menyempurnakan setengah agama seseorang, sebagaimana dalam sabda Nabi yang  mulia : “Jika seorang hamba menikah, maka telah sempurnalah setengah agamanya, maka bertakwalah kepada Alloh pada sebagian lainnya.” (HR Al-Hakim).
Agama Islam menganjurkan manusia jika telah mampu untuk segera menikah, karena nikah merupakan sunnah Nabi dan petunjuknya. Sebagaimana dalam sabda Nabi  : "Nikah itu sunnahku, barangsiapa yang tidak suka, bukan golonganku" (HR. Ibnu Majah)
Alloh telah berjanji bagi orang-orang yang menikah, bahwa Ia pasti akan menolong-nya, sebagaimana dalam sabda Nabi yang mulia  : “Tiga manusia yang Alloh pasti akan menolong mereka, -diantaranya adalah-, orang yang menikah karena ingin menjaga kehormatannya.” (HR Tirmidzi)
Sesungguhnya di dalam pernikahan terdapat rahasia Robbani yang sangat besar sekali,dimana saat terlaksananya akad nikah akan tercapailah kasih sayang yang didapati oleh suami isteri, dimana rasa kasih sayang tersebut tidak bisa didapati di antara dua orang sahabat kecuali setelah melalui pergaulan yang sangat lama. Makna semacam ini telah disinyalir di dalam firman Alloh Subhanahu Wa Ta'ala yang berbunyi : “Di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah, Dia menciptakan untuk kalian istri-istri dari jenis kalian sendiri, supaya kamu condong dan merasa tenteram kepadanya. Dan Dia jadikan rasa kasih sayang diantara kalian.” (QS Ar-Rum : 21)
Sesungguhnya di dalam pernikahan itu terdapat manfaat dan keutamaan yang besar,diantaranya adalah :
1. Memenuhi kebutuhan fitrah manusia.
2. Memperbanyak keturunan dan melestarikan kehidupan manusia.
3. Menyempurnakan agama dan menjaga kehormatan.
4. Mempererat hubungan keluarga dan saling mengenal diantara sesama manusia.
5. Memberikan ketenangan, ketentraman dan kebahagiaan di dalam hidup.
6. Mengangkat derajat kehidupan manusia dari kehidupan hewani menjadi manusiawi. Dan masih banyak manfaat besar lainnya.
MEMILIH PASANGAN HIDUP
emilih istri yang baik adalah perkara yang penting. Tidak ada seorang manusia pun yang berselisih mengenai hal ini. Akan tetapi yang diperselisihkan adalah, bagaimana pilihan itu dikategorikan baik, apakah berdasar pada harta, keturunan, kecantikan ataukah agama? Maka penasehat yang terpercaya, yaitu Nabi kita tercinta menjawab :
“Seorang wanita dinikahi karena empat hal: (1) Hartanya, (2) nasab (keturunan)-nya, (3)kecantikannya dan (4) agamanya. Maka pilihlah yang taat beragama niscaya kamu akan beruntung.” (HR Bukhari)
Ketahuilah, sebaik-baik wanita adalah wanita yang sholihah, sebagaimana dalam sabda Nabi Shalallahu 'Alaihi Wassalam: “Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita sholihah.” (HR Muslim)
Wanita shalihah adalah wanita yang menyenangkan hati bagi suaminya, senantiasa mengajak untuk berbuat kebaikan dan melarang dari keburukan serta memotivasi suaminya untuk beribadah dan sabar di dalam segala keadaan. Rasululah  bersabda :
“Sebaik-baik wanita adalah yang jika engkau melihatnya akan senang, jika engkau memerintahkannya ia akan mentaatimu, jika engkau memberinya maka ia akan berterima kasih dan jika engkau tidak ada di sisinya, maka ia akan menjagamu dan  hartamu.” (HR Nasa’i)
Memilih pria sama dengan kriteria memilih wanita. Hendaknya agama dan keshalihan-lah yang diprioritaskan. Seorang suami yang baik adalah yang ramah, bertanggung jawab, bisa membimbing isterinya, senantiasa mengajak kepada kebajikan dan melarang dari kemungkaran, selalu menasehati di dalam kebaikan dan kesabaran, penyabar dan mampu memimpin keluarganya kepada kebaikan. Oleh karena itulah Nabi  mewasiatkan kepada para wali atau orang tua wanita : "Jika datang (melamar) kepadamu orang yang engkau senangi agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah ia (dengan putrimu). Jika kamu tidak menerima (lamaran)-nya niscaya terjadi malapetaka di bumi dan kerusakan yang luas" (HR Turmidzi)
TAHAPAN-TAHAPAN PERNIKAHAN ISLAMI
Dalam ajaran Islam, tahapan di dalam merajut benang pernikahan ada 3, yaitu :
1. Nazhor (Melihat Calon Isteri)
Islam mensyariatkan bagi seorang pria yang hendak menikah, agar melihat wanita yang diidamkannya. Sebagaimana di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Jabir bin Abdillah Rhadhiyallahu 'Anhu berkata,
Rasulullah  bersabda :
إِ َ ذا خَ َ طبَ َأحَدُ ُ كمْ اَلمرَْأَة َفإِنْ اسْتَ َ طعَ َأ ْ ن يَنْظُرَ إَِلى مَا يَدْعُوْهُ إَِلى نِ َ كاحِهَا َفْليَ ْ فعَ ْ ل
“Apabila salah seorang diantara kamu ingin melamar wanita, maka jika bisa melihat apa-apa yang dapat mendorongnya menikahinya, maka lakukanlah.” (HR Abu Dawud)
Melihat wanita yang akan dilamar adalah suatu hal yang penting yang telah dijelaskan oleh syariat. Bahkan al-Imam al-A’masy t mengatakan : “Setiap pernikahan yang terlaksana tanpa adanya nazhor (melihat), maka pernikahan itu akan diakhiri dengan derita dan duka.”
Melihat wanita yang hendak dinikahi merupakan kebaikan bagi kedua belah fihak. Mata adalah utusan hati yang bertugas menyampaikan semua informasi yang dilihatnya. Jika hatinya tenang dan tetap menyukai wanita yang dilihatnya maka ia bisa lebih memantapkan dirinya untuk menjadikan wanita itu sebagai pasangan hidupnya.
Sementara jika hatinya dipenuhi keraguan dan kemauannya melemah kemudian dia membatalkan pernikahannya, maka yang demikian ini lebih baik bagi si pria dan si wanita. Karena membatalkan perjalanan saat hendak memulai adalah lebih baik daripada membatalkan perjalanan di tengah perjalanan. Demikian pula seorang wanita boleh melihat pria yang bermaksud menikahinya. Apabila ia cocok dan menyukainya, maka ia boleh menerimanya dan apabila ia tidak menyukainya, maka ia boleh menolaknya.
2. Khitbah (melamar atau meminang)
Setelah nazhor dan merasa cocok dengan wanita yang dilihatnya, maka hendaklah seorang pria maju melamar kepada walinya. Tidak boleh pria tersebut melamar langsung kepada wanita tersebut, ataupun kepada keluarga-keluarga lainnya padahal wali utama (bapak) wanita tersebut ada.
     Di dalam melamar, seorang pria harus tahu bahwa wanita yang hendak dilamarnya belum dilamar oleh pria lain, karena melamar wanita yang telah dilamar pria lain adalah haram hukumnya, sebagaimana sabda nabi  :
“Tidak halal seorang mukmin meminang wanita yang telah dipinang saudaranya hingga dia meninggalkannya” (HR Muslim)
Penting untuk diketahui oleh para pria yang hendak melamar wanita agar berterus terang. Bagi pria hendaknya ia menerangkan dirinya dengan benar dan jujur tanpa berlebih-lebihan atau menyembunyikan sesuatu. Dan bagi wali si wanita, hendaknya ia menerangkan kepada pria tentang keadaan puterinya dari segala segi. Karena sesungguhnya setiap sesuatu akan menjadi jelas pada masa-masa mendatang bagi kedua belah fihak tentang segala sesuatu yang ditutupi atau dilebih-lebihkannya dan akibat buruk akan dialami oleh suami isteri apabila tidak diawali dengan kejujuran dan keterusterangan. Pada saat melamar, tidak diperkenankan berkholwat (berduaan) dengan calon isteri sebelum resmi menikah kecuali apabila disertai mahramnya. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wassalam:
“Janganlah sekali-kali seorang dari kamu berkholwat dengan seorang wanita. Karena pasti setan akan menjadi fihak ketiganya.” (HR Tirmidzi).
3. Nikah
Inilah hari yang ditunggu-tunggu dan hari yang bersejarah di dalam kehidupan anak Adam. Hari yang akan menjadikan halalnya hubungan dua anak adam yang sebelumnya haram. Hari yang akan menentukan hari-hari berikutnya bagi sepasang anak Adam di dalam menempuh bahtera baru.
"Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang patut (kawin) dari
hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin, Alloh akan memampukan mereka dengan
karuniaNya. Dan Alloh Maha Luas (Pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui." (An-Nur : 32)
RUKUN AKAD NIKAH
Rukun akad nikah ada 3, yaitu :
1. Suami. Disyaratkan suami itu bukan mahram dan haruslah muslim. Laki-laki kafir atau non muslim haram menikah dengan wanita muslimah. Apabila tetap dilangsungkan, maka pernikahannya batal dan hukum pergaulan diantara mereka sama dengan zina.
2. Isteri. Disyaratkan isteri haruslah bukan mahram dan tidak ada pencegah seperti sedang dalam masa ‘iddah atau selainnya.
3. Ijab Qobul (Serah Terima). Ijab adalah ungkapan pertama kali yang diucapkan wali wanita dan Qobul adalah ungkapan penerimaan yang diucapkan oleh calon suami. Ijab qobul boleh dilakukan dengan bahasa, ucapan dan ungkapan apa saja yang tujuannya diketahui untuk menikah.
SYARAT SAHNYA NIKAH
yarat-syarat sahnya nikah ada 4, yang apabila tidak terpenuhi salah satu darinya maka pernikahannya menjadi tidak sah. Yaitu :
1. Menyebut secara spesifik (ta’yin) nama mempelai. Tidak boleh seorang wali hanya mengatakan, “saya nikahkan kamu dengan puteri saya” tanpa menyebut namanya sedangkan puterinya lebih dari satu.
2. Kerelaan dua calon mempelai. Dengan demikian tidak sah pernikahan yang dilangsungkan karena paksaan dan tanpa meminta persetujuan dari calon mempelai. Sebagaimana sabda Nabi : “Seorang gadis tidak boleh dinikahkan sehingga diminta persetujuannya” (HR Bukhari & Muslim)
3. Wali bagi mempelai wanita, sebagaimana dalam sabda Nabi  : “Tidak sah pernikahan kecuali dengan adanya wali” (HR. Abu Dawud). Yang menjadi wali bagi seorang wanita adalah ayahnya, kemudian kakek dari ayah dan seterusnya ke atas; kemudian anak lelakinya dan seterusnya ke bawah; Kemudian saudara kandung pria, saudara pria ayah dan seterusnya sebagaimana dalam hal warisan. Apabila seorang wanita tidak memiliki wali, maka sulthan (penguasa) yg menjadi walinya.
4. Dua orang saksi yang adil, beragama Islam dan laki-laki. Sebagaimana sabda Nabi  : “Tidak sah suatu pernikahan tanpa seorang wali dan dua orang saksi yang adil " (HR. Al-Baihaqi)
KHUTBAH NIKAH
ianjurkan agar disampaikan khutbah nikah menjelang akad nikah, yang demikian ini adalah termasuk sunnah Nabi  yang mulia. Lafal khutbah nikah adalah sebagai berikut :
إِنَّ ْا َ لحمْدَ لِّلهِ، نَحْمَدُهُ، وَنَسْتَعِيْنُهُ، وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَتُوْبُ إَِليْهِ، وَنَعُوْ ُ ذ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ َأنُْفسِنَا وَسَيَِّئاتِ َأعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهِ؛ َف َ لا مُضِلَّ
َلهُ، وَمَنْ يُضْلِ ْ ل، َف َ لا هَادِيَ َلهُ، وََأشْهَدُ َأ ْ ن َ لا إِلهَ إِلاَّ الله، وََأشْهَدُ َأنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوُلهُ
“Sesungguhnya segala puji hanyalah milik Allah. Kami memuji-Nya, memohon pertolongan dan ampunan-Nya, serta kami berlindung kepada Alloh dari kejahatan diri kami dan keburukan amal usaha kami. Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya dan barangsiapa yang disesatkan oleh Allah, maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk. Aku bersaksi bahwa tidak ada yang berhak diibadahi melainkan Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya”.
“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dengan sebenar-benarnya taqwa kepada-Nya,
dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam”. (QS. Ali ‘Imran:
102).
“Hai sekalian manusia bertakwalah kepada Rabb-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan istrinya, dan daripada keduanya Allah mengembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu”. (QS. An Nisaa’: 1)
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar”. (QS. Al-Ahzab: 70-71).
Kemudian hendaklah menyebutkan hajatnya…
1 Diriwayatkan oleh Abu Dawud dll. Khutbah ini seringkali disebut dengan Khutbah al-Hajat. Nabi  sering membaca khutbah ini baik pada acara
pernikahan maupun khutbah-khutbah beliau lainnya. Menggunakan khutbah ini lebih berbarakah dan merupakan sunnah Nabi  yang agung.

MAHAR (MAS KAWIN)
Termasuk keutamaan agama Islam di dalam melindungi dan memuliakan kaum wanita adalah dengan memberikan hak yang dipintanya berupa mahar kawin. Alloh berfirman : "Berikanlah mahar (mas kawin) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan" (QS. An-Nisaa : 4)
Sesungguhnya tidak ada batasan minimum ataupun maksimum untuk jumlah mahar. Namun sebaik-baik mahar adalah yang ringan dan tidak memberatkan sebagai-mana sabda Nabi  : "Wanita yang paling agung barakahnya, adalah yang paling ringan maharnya" (HR. Ahmad, Al Hakim dan Al Baihaqi)
          Islam membenci mahar yang berlebihan, dan perkara ini termasuk perkara jahiliyah yang akan membawa keburukan bagi kehidupan manusia. Mahar dapat berupa materi maupun non materi. Mahar berupa materi dapat berbentuk uang, barang, harta ataupun lainnya. Mahar berupa non materi dapat berupa jasa, semisal mengajarkan isteri membaca al-Qur’an, mengajarkan Islam, menghafal al-Qur’an atau yang semisalnya. Sebagaimana riwayat dari Anas, dia berkata : “Abu Thalhah menikahi Ummu Sulaim dengan mahar berupa keIslaman-nya” (Riwayat An-Nasa'i)
Mahar boleh diberikan secara langsung (tunai) atau dengan menunda sebagian atau seluruhnya. Menyebutkan mahar pada saat ijab qobul adalah sunnah tidak wajib, namun menyebutkannya lebih utama.
WALIMATUL ‘URSY
(RESEPSI PERKAWINAN)

alimatul ursy menurut pendapat mayoritas ulama adalah sunnah hukumnya. Namun sebagian lainnya menyatakan hukumnya wajib, berdasarkan sabda Nabi kepada ‘Abdurahman bin ‘Auf Radhiyallahu 'Anhu :
(َأوْلِمْ وََلوْ بِشَاةٍ)
“Adakanlah walimah walaupun hanya dengan menyembelih seekor kambing.”(HR Bukhari & Muslim).

ADAB-ADAB (ETIKA) MENYELENGGARAKAN WALIMAH
Di dalam menyelenggarakan walimah perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut :
1. Walimah hendaknya dilaksanakan setelah pasangan suami istri sah terbentuk.
2. Dalam walimah hendaknya diundang orang-orang yang shalih, baik yang miskin maupun yang kaya. Tidak boleh hanya mengundang orang yang kaya saja, sebagaimana sabda Nabi  : “Seburuk-buruk makanan adalah hidangan walimah yang orang-orang kaya diundang namun orang miskin tidak diundang.” (HR Muslim).
3. Walimah hendaknya dilaksanakan dengan sekurang-kurangnya menyem-belih seekor kambing, boleh juga lebih apabila ada keluasan rezeki. Apabila tidak mampu, maka boleh dengan lainnya menurut kadar kemampuan-nya. Boleh pula mengadakan walimah tanpa hidangan daging, sebagaimana pernikahan Rasulullah  dengan Shofiyah Radhiyallahu 'Anha yang hanya menyediakan makanan dari tepung, mentega dan keju yang dicampur.
4. Boleh bernyanyi dan menabuh rebana di dalam acara pernikahan yang dilakukan oleh kaum wanita di hadapan wanita. Sebagaimana sabda Nabi  : “Pemisah antara acara yang halal dengan yang haram adalah suara rebana.” (HR. Al-Hakim). Jadi yang diperbolehkan hanyalah suara rebana bukan musik-musik lainnya.
5. Mengumumkan acara pernikahan, sebagaimana dalam sabda Nabi  : “Umumkanlah pernikahan!” (HR. Ibnu Hibban)

KEMUNGKARAN-KEMUNGKARAN WALIMAH
Islam adalah agama yang universal dan paripurna. Ajaran Islam mencakup segala hal,
termasuk penyelenggaraan walimah. Segala bentuk acara walimah yang menyelisihi
syariat haruslah dijauhi dan ditinggalkan, walaupun telah menjadi kebiasaan dan
kebudayaan masyarakat. Diantara kemungkaran-kemungkaran yang patut ditinggalkan
adalah :
1. Ikhtilath (Bercampur baur) antara kaum lelaki dan wanita. Islam melarang
percampurbauran antara kaum laki-laki dan wanita tanpa hijab, karena akan
menimbulkan kerusakan bagi akhlak dan pribadi ummat.
2. Membuka aurat, terutama bagi kaum wanita. Kepada para wanita, hendaknya mereka
mengingat firman Alloh Subhanahu Wa Ta'ala :
“Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin;
hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka
lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu” (Al-Ahzab: 59).
Apabila terhadap isteri-isteri Nabi yang mana mereka adalah sebaik-baik wanita.
Alloh memerintahkan mereka untuk berjilbab dan menutup aurat, bagaimana lagi dengan wanita lainnya yang bukan termasuk isteri-isteri nabi?
3. Bertabarruj (berhias diri) sebagaimana berhiasnya kaum kafir, baik dengan cara mencabuti bulu alis, memanjang-kan kuku dan mengecatnya dan semisalnya. Ingatlah sabda Nabi : “Barangsiapa yang meniru-niru perbuatan suatu kaum tertentu maka dia termasuk dalam golongan mereka.” (HR Abu Dawud)
4. Tukar cincin. Ini merupakan budaya orang kafir yang tidak dikenal oleh Islam. Budaya ini berasal dari tradisi orang nasrani ketika mempelai pria memasangkan cincin ke ibu jari mempelai wanita, dia mengatakan, “Dengan nama Bapa”, kemudian dipindahkan lagi ke jari telunjuk sembari mengatakan, “Dengan nama Tuhan anak”, kemudian dipindah lagi ke jari tengah seraya mengatakan, “Dengan nama Roh Kudus” dan terakhir kalinya dia pindahkan ke jari manis seraya mengucapkan, “Amien”.
5. Kedua mempelai duduk berdua di pelaminan. Ini juga bukanlah bagian dari Islam,bahkan Islam berlepas diri darinya. Karena pelaminan akan menjadikan kedua mempelai sebagai pusat perhatian, dimana seorang lelaki yang asing dapat memandangi wajah si mempelai wanita demikian pula sebaliknya, yang pada akhirnya
dapat menyebabkan fitnah dan penyakit hati bagi para pelakunya.
6. Memperdengarkan musik-musik jahiliyah, apalagi musik-musik yang mengundang syahwat dan melalaikan. Demikian pula acara dansa-dansa dan joget ria, merupakan kemungkaran yang harus dihindari dan dijauhi.
7. Israaf (berlebih-lebihan) dan Tabdzir (menghambur-hamburkan harta dan makanan).
Sesungguhnya walimah yang sederhana namun sesuai dengan sunnah lebih berbarakah dan lebih baik daripada walimah yang mewah namun menyelisihi sunnah.
ADAB (ETIKA) BAGI
TAMU UNDANGAN PERNIKAHAN

Bagi tamu undangan pernikahan, ada beberapa adab yang perlu diperhatikan,diantaranya :
1. Wajib memenuhi undangan walimah apabila tidak memiliki udzur (penghalang),
seperti sakit, tempat tinggal yang jauh dan semisalnya. Sebagaimana sabda Nabi  :“Apabila salah seorang dari kalian diundang menghadiri acara walimah maka datangilah.” (HR Bukhari & Muslim).
2. Wajib memenuhi undangan walaupun sedang berpuasa, sebagaimana dalam sabda Nabi  : “Bila salah seorang dari kalian diundang untuk menghadiri jamuan makan, hendaklah ia memenuhi undangan tersebut. Jika tidak berpuasa hendaklah ia ikut makan dan jika sedang berpuasa hendaklah ia turut mendo’akan.” (HR Muslim). Apabila puasa yang dilakukan puasa sunnah, maka ia boleh membatalkan puasanya.
3. Berpakaian yang rapi dan sopan serta menutup aurat, terutama bagi kaum wanita.
4. Tidak mengajak orang yang tidak diundang oleh tuan rumah. Namun bagi yang tidak
diundang dibolehkan meminta ikut kepada orang yang diundang apabila diyakini tuan rumah pasti mengizinkannya.
5. Meninggalkan acara walimah jika melihat kemungkaran dan kemaksiatan di dalamnya.
6. Mendo’akan kedua mempelai dengan do’a :
بَارَكَ اللهُ َلكَ وَ عََليْكَ وَجَمَعَ بَيْنَ ُ كمَا فِيْ خَيْرٍ
“Semoga Alloh memberi berkah kepadamu dan kepada apa-apa yang diberikan-Nya kepadamu, serta semoga Alloh menghimpun kalian berdua di dalam kebaikan.” (HR Abu Dawud).
7. Mendo’akan orang yang mengundang setelah selesai makan dengan do’a :
اللهُمَّ ا ْ غفِرْ َلهُمْ وَارْحَمْهُمْ وَبَارِكْ َلهُمْ فِيْمَا رَزَقْتَهُمْ
“Ya Alloh, ampunilah mereka, sayangilah mereka dan berilah berkah pada makanan yang telah Engkau berikan kepada mereka.” (HR Muslim).
Bersederhana di Dalam Sunnah Lebih Baik daripada Bermegah-Megah di Dalam Kemungkaran
Para pembaca yang budiman, sesungguhnya bersederhana di dalam segala hal namun selaras dengan sunnah adalah jauh lebih baik, lebih utama dan lebih berbarakah daripada bermegah-megah dan bermewah-mewah, namun menyelisihi sunnah dan berada di dalam kemungkaran.
Abdullah bin Mas'ud Radhiyallahu "Anhu berkata : “Bersederhana di dalam mengamalkan sunnah lebih baik
daripada bersungguh-sungguh mengamalkan perbuatan bid'ah (perbuatan yang tidak terdapat contohnya dari Nabi ).”
Oleh karena itu, apa gunanya acara pernikahan dilangsungkan apabila asas pelaksanaannya adalah penyimpangan dan kemungkaran-kemungkaran?!!
Dimana letak barakah dan kesakralan suatu pernikahan, apabila Alloh Subhanahu Wa Ta'ala murka dengan
bentuk acara yang diselenggara-kan.

Ketahuilah wahai hamba Alloh, sesungguhnya sesuatu yang diawali dengan keburukan biasanya akan berakhir pula dengan keburukan, namun sesuatu yang diawali dengan kebaikan insya Alloh akan berakhir pula dengan kebaikan, baik dunia maupun diakhirat.
RENUNGAN BUAT SANG SUAMI

Wahai sang suami ....
Apakah berat bagimu, untuk tersenyum di hadapan istrimu di kala dirimu masuk menemui istri tercinta, agar engkau meraih pahala dari Allah?!!
Apakah membebanimu untuk berwajah yang berseri-seri tatkala dirimu melihat anak dan istrimu?!!
Apakah menyulitkanmu wahai hamba Allah, untuk merangkul istrimu, mengecup pipinya serta bercumbu disaat engkau menghampiri dirinya?!!
Apakah gerangan yang memberatkanmu untuk mengangkat sesuap nasi dan menyuapkannya di mulut sang istri, agar engkau mendapat pahala?!!
Apakah susah, apabila engkau masuk rumah sambil mengucapkan salam dengan lengkap :
"Assalamu`alaikum Warahmatullah Wabarakatuh"
agar engkau meraih 30 kebaikan?!!
Apakah gerangan yang membebanimu, jika engkau menuturkan untaian kata-kata yang baik yang disenangi kekasihmu, walaupun agak terpaksa, dan mengandung bohong yang dibolehkan?!!
Tanyalah keadaan istrimu di saat engkau masuk rumah!!
Apakah memberatkanmu, jika engkau menuturkan kepada istrimu di kala masuk rumah :"Duhai kekasihku, semenjak Kanda keluar dari sisimu, dari pagi sampai sekarang, serasa bagaikan setahun".
Sesungguhnya, jika engkau benar-benar mengharapkan pahala dari Allah walaupun engkau dalam keadaan letih dan lelah, dan engkau mendekati sang istri tercinta dan menggaulinya, niscaya dirimu akan mendapatkan pahala dari Allah, karena Rasulullah bersabda :"Dan di dalam mempergauli isteri kalian ada sedekah".
Apakah melelahkanmu wahai hamba Allah, jika engkau berdoa dan berkata : “Ya Allah perbaikilah istriku dan berkatilah daku pada dirinya”
Sesungguhnya ucapan baik itu adalah sedekah. Wajah yang berseri dan senyum yang manis di hadapan istri adalah sedekah. Mengucapkan salam mengandung beberapa kebaikan.
Berjabat tangan mengugurkan dosa-dosa. Berhubungan badan mendapatkan pahala.

RENUNGAN BUAT SANG ISTRI

Wahai sang Istri ....
Apakah akan membahayakan dirimu, apabila engkau menemui suamimu dengan wajah yang berseri, dihiasi simpul senyum yang manis di saat dia masuk rumah?
Apakah memberatkanmu, apabila engkau menyapu debu dari wajahnya, kepala, dan baju serta mengecup pipinya.?!!
Apakah engkau merasa sulit, jika engkau menunggu sejenak di saat dia memasuki rumah, dan tetap berdiri sampai dia duduk.!!!
Mungkinkah akan menyulitkanmu, jikalau engkau berkata kepada suami : "Alhamdulillah atas keselamatan Kanda, kami sangat rindu kedatanganmu, selamat datang kekasihku".
Wahai sang istri…
Berdandanlah untuk suamimu dan harapkanlah pahala dari Allah di waktu engkau berdandan, karena Allah itu Indah dan mencintai keindahan Pakailah parfum yang harum, dan ber-make-uplah, serta pakailah busana yang paling indah untuk menyambut suamimu. Jauhi dan jauhilah bermuka masam dan cemberut. Janganlah engkau mendengar dan menghiraukan perusak dan pengacau yang bermaksud merusak dan mengacaukan keharmonisanmu dengan suami.
Janganlah selalu tampak sedih dan gelisah, akan tetapi berlindunglah kepada Allah dari rasa gelisah, sedih, malas dan lemah. Janganlah berbicara terhadap laki-laki lain dengan lemah-lembut, sehingga menyebabkan
orang yang di hatinya ada penyakit mendekatimu dan menduga hal-hal yang jelek ada pada dirimu.
Selalulah dirimu dalam keadaan lapang dada, hati tentram, dan ingat kepada Allah setiap saat. Ringankanlah suamimu dari setiap keletihan, kepedihan dan musibah serta kesedihan yang menimpanya.
Suruhlah suamimu untuk berbakti kepada ibu bapaknya. Didiklah anak-anakmu dengan baik. Isilah rumah dengan tasbih, tahlil, tahmid, dan takbir, perbanyaklah membaca Al-Quran terutama surat Al-Baqarah, karena surat itu dapat mengusir setan.
Bangunkanlah suamimu untuk melaksanakan shalat malam, doronglah dia untuk melakukan puasa sunah, ingatkan dia akan keutamaan bersedekah, dan janganlah engkau menghalanginya untuk menjalin hubungan siraturrahim dengan karib kerabatnya.
Perbanyaklah beristighfar untuk dirimu, suamimu, serta kedua orang tua dan seluruh kaum muslimin. Berdoalah kepada Allah f, agar dianugerahkan keturunan yang baik, niat yang baik serta kebaikan dunia dan akhirat. Ketahuilah sesungguhnya Rabbmu Maha Mendengar doa dan mencintai orang yang nyinyir dalam meminta. Allah f berfirman: "Dan Rabbmu berkata : “Serulah Aku niscaya Aku penuhi doamu” (Al-Ghafir : 60).



الحَمدُ لِلَّهِ الذي زَوَّجَ الأَروَاحَ بِالأَشبَاحِ , وَأَحَلَّ النِكَاحَ , وَحَرَّمَ السِفَاحَ وَالصَلاَةُ والسَلاَمُ عَلَى مَن فَصَّلَ بَي نَ
المَمنُوعِ وَالمُبَاحِ , وَعَلَى آلِهِ وَأَصحَابِهِ أَربَابِ الصَلاحِ وَ الفَلاحِ. أَمَّا بَعدُ :
Ditengah era globalisasi dan modernisasi sekarang ini banyak nilai-nilai agama Islam yang sudah tidak diperhatikan lagi oleh sebagian besar kaum muslimin. Mereka lebih bangga dengan kebudayaan barat yang kafir yang jauh dari sifat manusiawi, sebagaimana yang telah Allah  firmankan :
"Sesungguhnya Allah akan memasukkan orang-orang yang beriman dan yang mengerjakan amal shalih kedalam surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai. Dan orang-orang kafir itu bersenang-senang (di dunia) dan mereka makan seperti makanannya binatang-binatang. Dan neraka adalah tempat tinggal mereka." (QS. Muhammad: 12)
"Sesungguhnya kami jadikan untuk isi neraka jahanam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakan untuk memahami (ayat-ayat Allah), dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakan untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah) dan mereka mempunyau telinga (tetapi) tidak dipergunakan untuk mendengar (ayat-ayat Allah) mereka itu seperti binatang ternak , bahkan mereka lebih
sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai." (QS. Al-'Araaf: 179)
"Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya? Atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar dan memahami. Mereka tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu)." (QS. Al-Furqan: 43-44)
Mereka menganggap manusia bisa dikatakan maju dan modern dengan berpakaian yang serba trendi (dengan memperlihatkan auratnya), bergaul bebas dengan lawan jenis atau kumpul kebo serta menanggalkan fitroh yang lurus.
Kaum muslimin berada ditengah pergolakan nafsu syahwat. Sebagian merek membiarkan anak-anak gadisnya berpakaian yang memperlihatkan sebagian ataupun seluruh tubuhnya dan bergaul bebas dengan lawan jenis tanpa ada ikatan suci, hingga terkadang mereka tidak terasa telah menanggalkan baju kesuciannya. Para orang tua pun seakan tak merasa bersalah dan berdosa, padahal merekalah yang akan dituntut dan dimintai pertanggungan jawab di hari kiamat kelak. Mungkin sebagian mereka tidak akan sadar hingga anak gadisnya telah ternodai dan ditinggalkan oleh sang kekasih.
Sungguh menyedihkan keadaan kaum muslimin kecuali yang dirahmati Allah Ta'ala. Mereka mengaku Islam sebagai agamanya, namun ketika diseru kepada ajaran Islam yang sebenarnya mereka lebih mengutamakan nafsunya dengan berdalih mengikuti perkembangan jaman (modernisasi).
       Bisakah itu semua menjamin kebahagiaan mereka di dunia dan di akherat kelak ?
Apakah dengan mengikuti perkembangan jaman bisa mengantarkan mereka ke surga ?
Sungguh benar sabda Rasulullah  :
بَدََأ الإِس َ لامُ َ غرِيبًا وَسَيَعُودُ َ غرِيبًا َ كمَا بَدََأ َف ُ طوبَى لِلغُرَبَاءِ
Artinya : "Islam muncul dalam keadaan asing dan akan kembali asing seperti awal munculnya maka beruntunglah orang-orang yang asing" [HR.Muslim].
Maka alangkah gembira dan bahagianya kita jika masih ada diantara para pemuda dan pemudi yang memiliki kecemburuan terhadap Islam dan senantiasa menjaga kesucian. Mereka tidak mau terjerumus kedalam lubang kenistaan dengan berpacaran sebelum pernikahan. Jika mereka ingin menikah mereka jalankan diatas ajaran Nabi  sehingga terbentuklah rumah tangga sakinah, mawaddah dan rahmah. Terpancar darinya cahaya
keharmonisan, kebahagiaan serta cinta kasih nan abadi. Allah ta'ala berfirman : "Maka apakah orang yang mendirikan masjidnya di atas dasar takwa kepada Allah dan keridhaan-(Nya) itu yang baik, ataukah orang-orang yang mendirikan bangunannya di tepi jurang yang rutuh, lalu banguananya itu jatuh bersama-sama dengan dia ke dalam neraka jahanam. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang Zalim."[QS At-Taubah 109].
Kita harapkan dari mereka inilah muncul generasi Islam yang komitmen kepada ajaran Agama RasulNya Shalallhu 'Alaihi Wassalam...

Imam Syafi'i Selasa, 15 Maret 2011

          Sesungguhnya segala puji bagi Allah semata, kami memuji-Nya, memohon pertolongan dan ampunan serta bertaubat kepada-Nya. Kami berlindung kepada-Nya dari kejelekan jiwa-jiwa kami dan dari keburukan amal perbuatan kami. Barangsiapa diberi hidayah oleh Allah, niscaya tiada seorang pun yang dapat menyesatkannya. Dan barangsiapa disesatkan-Nya, maka tiada seorang pun yang dapat memberinya petunjuk. Saya bersaksi bahwa tiada ilaah yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah semata tiada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam adalah hamba dan utusan-Nya. Shalawat dan salam semoga tercurah atas beliau, atas keluarga dan segenap sahabat beliau serta orang-orang yang mengikuti petunjuk beliau sampai hari Kemudian kelak. Amma ba'du:
Allah Ta'ala berfirman:
"Alif laaf miim. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan:"Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah menge-tahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta." (Al-Ankabut: 1-3)
 
      Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam telah mengabarkan kepada kita semua tentang fitnah-fitnah (malapetaka) yang bakal terjadi. Dan juga menjelaskan jalan selamat darinya, yaitu berpegang teguh dengan Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya. Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu menuturkan bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Ketahuilah bahwasanya bakal terjadi fitnah-fitnah (malapetaka)!" Kami bertanya: "Bagaimana jalan keluarnya wahai Rasulullah?" Beliau bersabda: "Berpegang teguh dengan Kitabullah, sebab di dalamnya disebutkan sejarah orang-orang sebelum kalian, dan khabar tentang yang akan datang setelah kalian, dan di dalamnya juga terdapat hukum terhadap perselisihan di antara kalian. Ia adalah pemisah antara hak dan bathil, dan sekali-kali bukanlah senda gurau. Barangsiapa mening-galkannya karena keangkuhan, niscaya Allah akan membinasakannya. Dan barangsiapa mencari petunjuk dari selainnya, niscaya Allah akan menyesatkannya. Ia adalah tali Allah yang kokoh. Dan ia adalah bacaan yang penuh hikmah. Dan ia adalah jalan Allah yang lurus." (HR. Ahmad dan At-Tirmidzi)
Pada hari ini kita berada dalam kancah pepe-rangan melawan fitnah (cobaan dan godaan) yang sangat besar. Fitnah bagaikan potongan malam kelam. Harta adalah fitnah (cobaan), anak-anak adalah fitnah (coba-an), wanita adalah fitnah (godaan), bercampur baur dengan orang-orang kafir dan munafik adalah fitnah (bencana), ajakan kepada kebatilan dan menjauhi kebe-naran adalah fitnah (malapetaka), teman pergaulan yang jahat adalah fitnah (bencana), seruan kepada perkara sia-sia, sesat dan batil adalah fitnah (bencana). Dan masih banyak lagi yang lain.
 
Ketika seorang insan jatuh terperosok ke dalam bahaya dan musibah, maka dihadapannya ada dua pilihan:
1. Ia segera mencari jalan-jalan keselamatan dan ber-usaha mengeluarkan diri dari musibah tersebut hingga ia bisa selamat. Tidak syak lagi hal ini meru-pakan keharusan yang harus
ditempuh bagi orang yang berakal.
2. Atau ia hanya bisa pasrah menerima dan membiarkan dirinya binasa. Ini adalah tindakan orang bodoh yang pasrah dan tidak mencari jalan selamat.
        
         Fitnah-fitnah sudah begitu banyak pada zaman sekarang ini. Gelombangnya sudah saling berbenturan dengan berbagai bentuk kejahatan. Maka wajib bagi setiap muslim untuk berhati-hati darinya dengan sungguh-sungguh berpegang teguh kepada Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya shallallahu 'alaihi wasallam. Dan hendaknya ia juga waspada agar tidak menjadi penebar fitnah (bencana) atau mendatangi atau condong kepadanya, sehingga ia terjebak di dalamnya. Dalam sebuah hadits Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
"Bakal terjadi fitnah (pertumpahan darah), orang yang duduk ketika itu lebih baik daripada orang yang berdiri, yang berdiri lebih baik daripada orang yang berjalan, yang berjalan lebih baik daripada yang berlari. Dan barangsiapa melibatkan diri ke dalamnya niscaya ia akan terseret ke dalamnya." (Muttafaq 'alaih)
 
         Kita semua, baik rakyat maupun penguasa, ulama maupun orang awam, hendaknya saling bahu membahu memadamkan api fitnah dengan berbagai corak terse-but. Dengan cara yang penuh hikmah dan nasihat yang baik. Jika hal itu tidak kita lakukan, maka akibatnya akan sangat berbahaya dan kesudahannya akan sangat menyakitkan. Allah berfirman: "Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zhalim saja diantara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya." (Al-Anfal: 25)
Ketahuilah wahai saudaraku, bahwa dunia ini ada-lah batu ujian dan cobaan. Allah berfirman:
"Agar Dia menguji siapakah di antara kamu yang lebih baik amalnya." (Huud: 7)
Dan bahwasanya kampung akhirat adalah tempat tinggal yang abadi. Orang yang berbahagia adalah yang diselamatkan Allah dari fitnah-fitnah (bencana-bencana). Dan orang yang celaka adalah yang terseret ke dalam-nya dan menjadi penyeru kepadanya. Semoga Allah memberikan keselamatan bagi kita semua.
Risalah yang sederhana ini menyebutkan dengan ringkas beberapa fitnah-fitnah yang banyak bersebaran pada zaman sekarang ini dan banyak menimpa kaum muslimin. Mudah-mudahan bermanfaat bagi orang yang ingin memetik faidah dan menjadi peringatan bagi para pencari ibrah (pelajaran). Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.
MAKNA FITNAH
       Fitnah adalah cobaan dan ujian.
Dosa syirik disebut fitnah dan kekufuran juga dise-but fitnah. Allah berfirman dalam kitab-Nya: "Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi." (Al-Baqarah: 193)
Yaitu sehingga tidak ada lagi syirik dan kekufuran. Dalam ayat lain Allah berfirman: "Kalau (Yatsrib) diserang dari segala penjuru, ke-mudian diminta kepada mereka supaya murtad, niscaya mereka mengerjakannya." (Al-Ahzab: 14)
Namun istilah fitnah lebih banyak diucapkan un-tuk sesuatu berupa bala dan cobaan yang kerap kali memperdaya dan menyimpangkan banyak orang dari jalan yang lurus. Sementara mereka tidak mampu mengatasinya, akhirnya mereka larut bersama bala dan cobaan tersebut. Itulah cobaan dan bala yang menyesatkan yang sangat dikhawatirkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam atas umatnya.                                                                            
       Dalam sebuah hadits shahih beliau bersabda: "Menjelang hari Kiamat nanti bakal terjadi fitnah-fitnah seperti potongan malam kelam. Pada saat itu seseorang beriman pada pagi hari dan menjadi kafir pada sore harinya, beriman pada sore hari dan menjadi kafir pada pagi harinya. Ia menjual agamanya dengan materi dunia." (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah)
Maknanya apabila fitnah tersebut telah menimpa seseorang, ia akan terpedaya dan selanjutnya sesat serta menyimpang dari kebenaran dan petunjuk, ia menjual agamanya dengan materi dunia! Fitnah-fitnah seperti ini telah banyak kita saksikan pada hari ini. Oleh karena itu yang dapat bertahan dan sabar dalam menghadapinya hanyalah orang-orang yang diteguhkan Allah dan diberi-Nya karunia ilmu dan pengetahuan.
 
SETAN-SETAN DARI KALANGAN JIN DAN MANUSIA
       Setan telah meyakini bahwa dirinya telah binasa. Bahwa ia termasuk penduduk Neraka. Dan ia pasti masuk ke dalamnya tanpa dapat menghindar sama sekali. Oleh karena itu ia berusaha menyesatkan bani Adam agar mereka bisa masuk bersama-sama ke dalam Neraka. Bahkan setan bersumpah untuk melakukan tekadnya itu. Allah Ta'ala berfirman:
"Iblis menjawab: "Demi kekuasaan Engkau aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlis di antara mereka." (Shad: 82-83)
     Allah juga mengabarkan bahwa di kalangan manu-sia juga ada yang berperan sebagai setan. Allah Ta'ala berfirman: ''Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin." (Al-An'am: 112)
    Cobalah perhatikan, Allah Ta'ala mendahulukan penyebutan setan dari jenis manusia sebelum penyebutan setan dari jenis jin! Sebab setan jenis manusia itulah yang mengajak kepada apa yang diserukan oleh setan jenis jin. Mereka mengajak kepada kekufuran, bid'ah dan maksiat, yang mana hal itu merupakan seruan setan. Alim ulama menjelaskan bahwa setan senantiasa mengajak manusia kepada perbuatan dosa, mulai dari dosa yang paling besar sampai dosa yang kecil. Ibnul Qayyim menyebutkan dalam kitab Al-Bada'iul Fawaaid di akhir juz kedua sebagai berikut: "Sesungguhnya setan mengajak manusia kepada enam perkara. Ia baru melangkah kepada perkara kedua bila perkara pertama tidak berhasil dilakukannya.
· Mengajaknya berbuat syirik dan kekufuran. Jika hal ini berhasil dilakukannya berarti setan telah menang dan tidak sibuk lagi dengannya.
· Jika tidak berhasil, setan akan mengajaknya berbuat bid'ah. Jika sudah terjerumus ke dalamnya, maka setan akan membuat bid'ah itu indah di matanya hingga dia rela dan setan pun membuatnya puas dengan bid'ah itu.
· Jika tidak berhasil juga, setan akan menjerumuskan-nya ke dalam dosa-dosa besar.
· Jika tidak berhasil, setan akan menjerumuskannya ke dalam dosa-dosa kecil.
· Jika ternyata tidak berhasil juga, setan akan menyi-bukkannya dengan perkara-perkara mubah hingga ia lupa beribadah.
· Jika tidak mempan juga, setan akan membuainya dengan perkara-perkara kurang penting hingga ia abaikan perkara-perkara terpenting.
· Jika gagal juga, maka setan akan melakukan tipu daya terakhir, jarang orang yang selamat
darinya hingga para nabi dan rasul sekalipun. Yaitu mengerahkan bala tentaranya dari jenis
manusia untuk menyerang orang-orang yang berpegang teguh de-ngan agamanya.
          Oleh sebab itu kita temui setan-setan jenis manu-sia ada juga yang menyeru kepada kekufuran, syirik, mengajak orang berbuat dosa, baik dosa besar maupun dosa kecil. Jika tidak mampu, mereka akan membuat orang lalai dengan perkara-perkara mubah. Jika masih juga gagal, maka mereka memalingkan orang dari amal yang terpenting kepada amal yang kurang penting. Jika ternyata gagal, maka tidak ada jalan lain kecuali mengganggu dengan lisan, dengan tangan atau dengan gangguan model apa saja!
    Maka seorang insan seharusnya tetap waspada dan menjauhkan diri dari setan-setan baik dari jenis jin maupun manusia.
 
JENIS-JENIS FITNAH
       Hendaknya setiap muslim harus mengetahui jenis-jenis fitnah, agar ia dapat berjalan di atas ilmu dan keterangan yang nyata, dan hingga ia tidak terkicuh, terutama bagi para pemuda. Sebab jika Allah tidak memberinya akal yang cemerlang dan sikap santun serta pemahaman dan pengetahuan yang cukup mengenai fitnah ini, niscaya banyak di antara mereka yang terkicuh dengan tipu daya setan. Dengan mudah ia akan mengikuti setiap ajakan setan. Maka dari itu, kita harus menyebutkan beberapa bentuk dan beberapa jenis fitnah pada zaman sekarang ini. Sebagaimana yang dimaklumi bersama, bahwa juru fitnah (kesesatan) tidak terang-terangan mengajak orang kepadanya. Namun ia mengajak melalui corong-corongnya, para penyebar dan para penyeru kepadanya. Merekalah yang disebut sebagai da'i -da'i penyebar kesesatan.
 
Fitnah ada dua jenis:
Pertama: Penyeru kepada syirik, kekufuran, kese-satan dan penyebar aqidah menyimpang.
Kedua: Penyeru kepada perbuatan dosa dan mak-siat, baik dosa besar maupun dosa kecil.
Akan kita sebutkan satu per satu dengan ringkas dan gamblang supaya menjadi peringatan dan penjelasan.
       Sebab sangat disayangkan sekali risalah sederha-na ini tidak cukup memuat seluruhnya.
Jenis Pertama: Penyeru Kepada Syirik, Kekufuran, Kesesatan dan Penyebar Aqidah Menyimpang Sesungguhnya merupakan fitnah zaman sekarang adalah merebaknya ajakan kepada perbuatan syirik, kufur dan sesat serta menyebarnya aqidah-aqidah yang menyimpang di mana-mana. Sudah barang tentu Allah Subhanahu Wa Ta'ala telah meletakkan fitrah pada diri manusia untuk mengenal-Nya. Dan untuk mengakui-Nya sebagai
Rabb dan ilaah (sesembahan). Hal ini ditegaskan dalam firman-Nya:
"(Tetaplah atas) fitrah Allah yang telah mencip-takan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada
perubahan pada fitrah Allah.(Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak
mengeta-hui." (Ar-Rum: 30)
    Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam juga telah menegaskan hal itu dalam sabdanya:
"Setiap bayi terlahir dalam keadaan fitrah (muslim muwahhid), namun kedua orang tua-nyalah yang menjadikan dia Yahudi, Nasrani atau Majusi. Sebagaimana seekor hewan melahirkan anaknya dalam keadaan sempurna, adakah kamu dapati cacat padanya." (Muttafaq 'alaih)
    Dalam hadits ini Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjelaskan bahwa seorang insan lahir ke dunia dalam keadaan yang sem-purna, siap menerima kebaikan. Sekiranya ia dibiarkan begitu saja, niscaya ia dapat mengenali Rabbnya. Ia akan mengetahui apa yang diperintahkan kepadanya, serta menyadari bahwa ia tidak dibiarkan begitu saja. Ia dibebani tanggung jawab dan kewajiban. Akan tetapi di sekitarnya ada faktor-faktor yang mempengaruhinya. Ada yang baik, yang akan menghidupkan fitrah dan nalurinya.
Dan ada yang buruk, yang membelokkannya dari aqidah yang benar, hingga terjerumus dalam aqidah-aqidah sesat. Faktor berpengaruh tersebut bisa jadi dari orang tuanya sendiri dan bisa jadi dari guru atau orang lain.
Fitnah semacam ini bergerak mengajak orang ke-pada kesesatan dan kemaksiatan. Dengan ajakan seperti ini dan dengan metode yang penuh tipu daya tersebarlah berbagai macam kemaksiatan secara otomatis semakin banyak pula orang-orang yang mempromosikannya. Coba lihat, betapa banyak penyeru kepada kekufuran, kebatilan dan kesesatan.
   Tidak syak lagi, bahwasanya siapa saja yang meng-gandrungi sebuah keyakinan, menyenanginya dan mera-sa puas dengannya, pasti senang bila keyakinan seperti itu semakin banyak penganutnya dan tersebar luas. Ia akan segera menawarkan keyakinan itu kepada orang lain dan berusaha agar orang lain menyukainya dan memandangnya bagus. Tanpa ambil peduli dengan kesalahan dan kesesatan yang ada padanya. Sebagai contoh, kita meyakini kesesatan kaum Nasrani, Yahudi dan Majusi, siapa saja yang mempelajari dan mengetahui keyakinan mereka pasti yakin bahwa mereka jauh dari kebenaran.
Walaupun begitu mereka meyakini bahwa mereka berada di atas kebenaran. Oleh sebab itu mereka berusaha sekuat tenaga menyebarkan keyakinan mereka melalui berbagai media. Dan menyebarkan juru-juru dakwah yang mereka namakan missionaris, namun pada hakikatnya mereka adalah penginjil dan penyebar kesesatan. Mereka ini adalah fitnah terbesar, yang mana mereka telah berhasil menyesatkan banyak orang. Hanya orang-orang yang diselamatkan Allah Subhanahu wa Ta'ala saja yang terhindar dari bahaya mereka para missionaris dan penginjil itu. Allah Subhanahu wa Ta'ala menjadikan mereka sebagai batu ujian dan cobaan bagi umat manusia. Namun di balik itu semua ada hikmah yang besar dan bukti yang terang.
   Termasuk fitnah yang tersebar pada hari ini adalah ajakan-ajakan kepada aqidah yang sesat. Siapa saja yang meyakini sebuah aqidah sesat, maka aqidah itu akan menjadi kepercayaannya. Ia akan menyeru kepada-nya dan mengangkat juru-juru dakwah untuk menyebar-kannya. Dan rela mengeluarkan hartanya untuk itu sekalipun aqidah itu batil dan jauh dari kebenaran. Namun setan membuta-tulikan mata hatinya sehingga merasa dirinyalah yang benar dan memandang salah orang-orang yang menyelisihinya.
Lihat saja, setiap ahli bid'ah pasti mengajak orang kepada bid'ahnya. Sebagai contoh kaum Syi'ah Rafidhah, ajaran mereka telah tersebar luas di beberapa negeri Islam. Padahal jika engkau menilik keyakinan mereka, pasti engkau dapati sangat jauh dari kebenaran. Jika engkau membaca buku-buku mereka, pasti   engkau akan terhenyak kaget melihat kisah-kisah khurafat dan dusta bertebaran di sana-sini.
   Walau demikian, mereka bersungguh-sungguh dalam menyebarkan aqidah sesat tersebut. Bukan itu saja, bahkan mereka rela mengeluarkan harta yang berlimpah demi menjerat orang-orang jahil dan bodoh ke dalamnya. Jarang orang yang selamat jika sudah terperangkap jerat aqidah tersebut. Wal'Iyadzubillah..... Setan menutup mata mereka sehingga mereka merasa berada di pihak yang benar. Lalu mereka pun berusaha memperdaya orang lain supaya meyakini merekalah golongan yang benar, selain mereka adalah ahli bathil. Ternyata banyak sekali orang-orang jahil dan terbelakang yang terkicuh dengan cara-cara mereka itu. Mereka menampakkan kelembutan, kerendahan hati dan ketawadhu'an namun di balik itu mereka berusaha menyeret orang ke dalam aqidah mereka yang sesat. Fitnah kelompok Syi'ah Rafidhah ini sudah sedemikian besar dan parah, kita memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala semoga kaum muslimin terhindar dari kejahatan dan bahaya mereka. Selain itu banyak pula kelompok-kelompok menyimpang lainnya. Misalnya kelompok Khawarij yang juga merupakan ancaman serius. Mereka masih tetap bergentayangan di beberapa negeri. Yang membuat api fitnah semakin marak. Demikian pula kaum sufi, kaum ahli bid'ah yang mentakwil secara bathil sifat-sifat Allah. Mereka juga merupakan pemicu fitnah. Mereka ini menyebar di ber-bagai belahan dunia. Dan masih banyak lagi kelompok-kelompok menyimpang lainnya.
Maka sudah seyogyanya seorang insan berpegang teguh kepada al-Haq dan benar-benar meyakininya Dan benar-benar bersandar kepada dalil-dalilnya. Serta menjauhkan diri dari juru-juru fitnah dan kesesatan tersebut. Jangan sekali-kali ia mendengar ajakan dan promosi mereka. Sekalipun ia seorang yang berilmu. Sebab keyakinan-keyakinan sesat itu ibarat racun dalam lemak. Kelihatannya enak, menarik minat untuk mema-kannya namun di balik itu adalah racun mematikan.
 
        Tujuan kami menyebutkan oknum-oknum juru dakwah yang menyesatkan serta bid'ah-bid'ah mereka adalah sebagai peringatan bagi setiap muslim dari bahaya mereka dan bahaya bid'ah yang mereka serukan. Dan supaya kaum muslimin tidak bertumpu kepada mereka. Hendaklah selalu waspada dan berhati-hati terhadap setiap orang yang mengajak kepada kekufuran, syirik, bid'ah dan kesesatan.
 
Jenis Kedua: Penyeru Kepada Maksiat dan Dosa yang Besar Maupun Kecil Oknum-oknum yang mengajak berbuat maksiat dan dosa yang besar maupun kecil sangat banyak berkeliaran pada zaman sekarang ini, semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala tidak memperbanyak jumlah mereka. Banyak sekali fitnah dan musibah akibat kejahatan mereka. Mereka masuk ke mana-mana, di kalangan kaum Yahudi terdapat penyeru kepada maksiat, demikian pula halnya di kalangan kaum Nasrani, kaum musyrikin, kaum mulhidin kaum komunis, bahkan di kalangan kaum muslimin dan lebih khusus lagi di kalangan Ahlus Sunnah terdapat penyeru kepada maksiat. Demikian pula di kalangan kaum Syi'ah Rafidhah, Mu'tazilah dan kelompok-kelompok bid'ah lainnya, di kalangan mereka terdapat penyeru kepada maksiat.
   Penyeru kepada maksiat lebih dominan daripada yang lain. Bencana yang mereka timbulkan juga lebih besar. Tidak ada jalan alternatif lain bagi seorang mus-lim untuk menyelamatkan dirinya dari bencana tersebut kecuali dengan menyadari bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala telah mengha-ramkan segala perbuatan maksiat. Dan hendaknya ia mengetahui bahwa oknum-oknum yang mengajak berbuat maksiat pada hakikatnya mengajak supaya orang lain meniru mereka.
   Tidak syak lagi, Allah Subhanahu wa Ta'ala telah menjelaskan perkara yang halal dan perkara yang haram. Dan telah mene-tapkan sanksi dan hukuman atas perbuatan haram dan mengancam pelakunya dengan siksaan yang pedih. Di samping itu Allah Subhanahu wa Ta'ala menganjurkan hamba-Nya berbuat taat dan berpegang teguh dengannya serta selalu me-ngerjakan amal-amal kebaikan. Dan Dia telah menjanjikan pahala yang besar bagi yang mengamalkannya. Namun meski demikian, oknum-oknum yang menggan-drungi perbuatan dosa dan maksiat itu tetap ngotot menyebarkannya.
   Jika hati bertanya, apa yang mereka inginkan di balik maksiat dan dosa yang mereka sebarkan ke manamana?
Bukankah mereka mengetahui bahwa Allah telah mengharamkannya? Bukankah mereka juga menyadari bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala akan mengazab orang-orang yang berbuat maksiat? Lalu apa yang mereka inginkan?
Jawabnya: Itulah fitnah dan bala zaman sekarang! Allah Subhanahu wa Ta'ala menguji hamba-hambaNya dengan fitnah tersebut. Barangsiapa selamat berarti merekalah orang-orang yang dikehendaki baik oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala. Barangsiapa binasa, maka merekalah orang-orang yang dikehendaki sesat oleh-Nya. Wal 'Iyadzubillah.....
Sebagai keterangan tentang fitnah dan bahaya para penyeru kepada maksiat, kami akan menyebutkan beberapa contoh orang-orang yang mengajak berbuat maksiat dan seruan yang mereka teriakkan. Sehingga seorang muslim dapat berjalan dengan penuh kewaspa-daan terhadap mereka dan pengaruh mereka. Kami akan menyebutkan beberapa maksiat yang sudah umum dan merata di tengah-tengah umat. Menyinggung sekilas tentang bahayanya dan tidak memerincinya lebih men-dalam. Sebab buku kecil ini tidak cukup untuk memuatnya.
 
1-Menenggak Minuman Keras
       Meminum minuman keras termasuk fitnah (ke-mungkaran) besar yang banyak menimpa para pemuda Islam sekarang ini. Tidak hanya sebatas menenggaknya saja, bahkan mereka juga mengajak orang lain kepada kemungkaran yang besar ini. Setiap orang yang kecanduan minuman keras, pasti mengajak orang lain untuk mencicipinya. Sebab ia sudah terlanjur sayang dan suka serta menggandrunginya, karena itulah ia ingin agar semakin banyak orang yang mengikuti dan mem-bantunya. Sehingga tidak ada orang yang mencegahnya. Ia akan berkata kepada orang yang mendakwahinya: "Mengapa Anda terlalu
pelit terhadap diri sendiri? Mengapa Anda tidak ikut bersenang-senang menikmati kelezatan ini?
        Demikianlah ia terus merayu sehingga orang-orang yang jahil akan terperosok ke dalam perbuatan maksiat itu! Dan bila sudah jatuh ke dalamnya, ia akan terjerat sehingga sangat sulit untuk melepaskan diri. Jatuhlah ia ke dalam kemungkaran yang besar, yaitu meminum minuman keras. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
"Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamr (arak) dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan shalat, maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu). (Al-Ma'idah: 90-91)

2-Mendengarkan Lagu dan Alat-alat Musik
          Termasuk fitnah (kemungkaran) yang banyak ter-sebar pada zaman sekarang adalah mendengarkan nyanyian dan alat-alat musik. Orang-orang yang kecan-duan alat-alat musik dan hobi mendengarkan musik, lagu dan sejenisnya suka jika semakin banyak orang yang mempunyai kegemaran seperti mereka. Oleh sebab itu, pecandu musik dan lagu tahu jika kita semua menentang mereka, maka kita akan mengekang mereka, menyusahkan dan merendahkan mereka. Sehingga dengan itu mereka akan rendah dan hina serta tidak dapat memuaskan dirinya dan menampakkan serta mempromosikan kehendak syahwatnya.
Bilamana banyak orang-orang yang mendukung mereka dan banyak pula orang-orang yang meniru, membantu dan mengikuti mereka, maka dengan leluasa mereka membuka tempat-tempat hiburan, night club, music house, kafe-kafe, diskotik-diskotik, tempat-tempat karaoke dan lainnya. Mereka pun mengajak orang lain ke tempat itu. Pengaruh mereka terhadap orang-orang jahil adalah cobaan dan bala'. Dengan cobaan itu Allah meneguhkan orang-orang yang berakal dan menyesat-kan orang-orang jahil dan menyimpang.
 
3-Mengisap Rokok
               Mengisap rokok termasuk fitnah (wabah) besar yang pada hari ini tidak ada satupun rumah yang selamat dari asapnya! Kecanduan mengisap rokok telah melanda setiap lapisan baik orang dewasa maupun anak ecil, pria maupun wanita. Bukan sebatas itu saja, ternyata banyak juga oknum-oknum yang menyeru kepada wa-bah rokok yang lebih tepat disebut penyakit dan bala'!
Mengapa?
Sebab para perokok ingin agar semakin banyak orang yang kecanduan rokok. Sehingga tidak ada lagi orang yang berusaha mencegahnya. Ajakan para peng-isap rokok ini termasuk fitnah. Bila ia melihat eorang jahil, ia akan berusaha mempengaruhinya supaya merokok. Termasuk di antaranya beberapa orang yang terpengaruh merokok melalui teman-temannya yang candu merokok. Ia terpengaruh dengan jumlah mereka yang banyak tanpa melihat kepicikan dan kedangkalan akal dan faham para perokok itu. Lama-kelamaan ia akan mengikuti kebiasaan mereka. Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan bagi dirinya, niscaya Dia akan melindungi serta menjauhkannya dari pergaulan anak-anak nakal tersebut. Dan barangsiapa dipengaruhi mere-ka, maka hendaklah berhati-hati dan waspada terhadap ajakan dan seruan mereka. Sebab bahaya ini (bahaya mengisap rokok) telah merata di mana-mana dan telah meminta banyak korban.
 
4-Eksploitasi Kaum Wanita
               Termasuk dalam deretan fitnah zaman sekarang adalah eksploitasi kaum wanita. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam telah mengabarkan bahwa wanita itu adalah salah satu fitnah yang terbesar. Beliau bersabda: "Berhati-hatilah dari godaan dunia dan waspadai-lah rayuan kaum wanita, sebab fitnah pertama kali yang menimpa bani Israil adalah fitnah wanita." (HR. Muslim).
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menyebut wanita sebagai fitnah (sumber godaan). Dan rasul juga telah mengabarkan bahwa bani Israil tersesat karena fitnah (godaan) wanita. 
      Pada zaman sekarang ini eksploitasi kaum wanita banyak tersebar di mana-mana. Mayoritas kaum hawa itu berani bersolek dan menampakkan lekuk tubuh mereka di pasar dan di jalan-jalan. Memamerkan segala macam asesioris dan perhiasannya.
Barangsiapa yang Allah kehendaki terkena godaan, maka ia akan menyorotkan matanya atau melirikkan pandangannya kepada mereka (kaum wanita itu). Hing-ga dikhawatirkan ia akan terkena godaan daya tarik wanita itu dan terpedaya lantas timbul syahwat terlarang yang mendorongnya berbuat apa yang diharamkan Allah Subhanahu wa Ta'ala, yaitu berzina! Atau pengantar kepada zina (seperti berdua-duan tanpa mahram, berpacaran dan lain-lain-pent).          Memang, wanita adalah godaan yang paling besar! Termasuk di antaranya eksploitasi kaum wanita melalui film-film. Ini merupakan musibah dan malapetaka besar.
Demikian pula foto-foto mereka di majalah, koran-koran dan sampul barang-barang tertentu. Mereka sengaja memilih wanita-wanita cantik agar menarik minat orang, khususnya para pemuda. Dan yang lebih berbahaya lagi adalah munculnya foto-foto mereka dalam keadaan bugil atau setengah bugil yang diproduksi dengan kamera-kamera canggih dan ditebar dengan parabola. Nas`alullah al-'afiyah was salaamah
       Tidak diragukan lagi hal itu termasuk bencana ter-besar pada zaman sekarang ini. Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh. Barangsiapa mensucikan dirinya, pandangannya tidak akan tertuju kepada perkara haram itu. Dan tidak akan menuruti kehendak syahwat dalam hatinya kepada wanita-wanita itu. Barangsiapa dipelihara dan dijaga oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala, niscaya Dia akan menjauhkannya dari fitnah tersebut. Dan niscaya Dia akan memasukkannya ke dalam golongan orang-orang yang Allah Subhanahu wa Ta'ala kehendaki kebaikan bagi diri mereka.
 
5-Fitnah Harta
         Termasuk fitnah pada zaman ini adalah harta benda dunia yang banyak menguasai hati manusia. Sehingga mereka lebih mengutamakan dan mengedepankannya daripada menunaikan hak-hak Allah Subhanahu wa Ta'ala. Mereka tidak peduli dengan cara apa memperoleh harta benda itu, dengan yang halal atau yang haram.
Ini termasuk bencana yang sudah merata. Banyak juga oknum-oknum yang mengajak berbuat demikian.
         Adapun faktor pendorongnya adalah hawa nafsu yang diciptakan untuk selalu mencintai harta benda. Akibat-nya, banyak sekali orang yang terperosok ke dalam perbuatan haram. Pada hari ini banyak ditemukan orang-orang yang berbangga-bangga dengan harta yang ba-nyak. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
"Bermegah-megahan telah melalaikan kamu." (At-Takatsur: 1)
"Dan mereka berkata: "Kami lebih banyak mem-punyai harta dan anak-anak (daripada kamu) dan kami sekali-kali tidak akan diazab". (Saba': 35)
Betapa banyak orang-orang yang tergoda dengan harta benda dunia. Dan betapa banyak pula orangorang yang bertanya-tanya bagaimana si Fulan dapat mengum-pulkan harta sebanyak itu hingga ia menjadi orang kaya dan dapat membangun istana-istana, memiliki ini dan itu di dalam dan luar negeri?
Hingga ia pun berangan-angan dan akhirnya condong kepada harta dunia. Dan betapa banyak pula orang yang terpedaya dengan cobaan harta ini. Mereka mengumpulkan harta tanpa peduli halal haram. Akhirnya mereka terjerumus ke dalam praktek riba, penipuan, suap-menyuap, an lainnya. Semua itu karena ambisinya mengumpulkan harta. Sekalipun dengan cara mencuri, korupsi, menggelapkan harta negara tanpa hak dan lain-lain. Maksudnya tidak lain dan tidak bukan adalah untuk memperbanyak dan mengembangkan hartanya sehingga ia bisa seperti si Fulan dan si Fulan!! Apabila telah memperoleh harta yang banyak, maka mereka habiskan untuk berfoya-foya, memuaskan syahwat, mengenakan pakaian-pakaian yang disukai, tanpa memperhatikan batas halal haramnya lagi. Seperti memanjangkan pakaian melebihi mata kaki (isbal), atau meniru pakaian orang kafir, berekreasi ke  negeri-negeri Eropa (baca:kafir), dan menyorotkan mata sesuka hati kepada perkara-perkara yang terlarang sebagai pemuas nafsu binatang mereka.
 
       Demikianlah musibah menjadi bertambah besar. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam telah enegaskan bahwa harta adalah cobaan. Dan yang beliau takutkan atas kita adalah harta dunia yang dibentangkan dan gemerlap dunia yang Allah Subhanahu wa Ta'ala keluarkan bagi kita. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
"Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanya-lah cobaan (bagimu); dan di sisi Allah-lah
pahala yang besar." (At-Taghabun: 15)
Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta'ala jualah yang telah menganugerahkan harta benda tersebut. Dan menjadi cobaan bagi hamba yang menerimanya. Apakah ia tergelincir ke dalam perkara haram disebabkan harta itu? Apakah ia membeli barang-barang terlarang karena tidak puas dengan yang dibolehkan? Ataukah ia gunakan untuk memuaskan nafsunya sekalipun dengan perkara yang haram!?
Misalnya setiap kali bepergian ke luar negeri, ia terjerumus ke dalam perkara haram, seperti meminum khamar, berzina, dan lainnya. Itulah fitnah besar pada zaman sekarang ini. Kita memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala keselamatan dari segala kejelekan.
 
6-Fitnah Ajakan Kepada Penyimpangan dan Kesesatan
         Termasuk fitnah pada zaman ini adalah ajakan dan seruan kepada berbagai jenis penyimpangan dan kesesatan. Orang-orang yang mengajak kepadanya berasal dari kalangan kaum kafir dan orang-orang fasik yang datang kepada kita dengan gelar-gelar mentereng seperti guru besar, instruktur, insinyur, arsitek, doktor, orang pintar dan sejenisnya. Orang-orang awam meng-gelari mereka dengan sebutan 'tenaga ahli'. Pada umum-nya mereka adalah orang-orang yang membenci dan dengki kepada kita. Sebab kita berpegang teguh dengan aqidah salafiyah yang benar. Di samping kita juga memiliki kekayaan alam yang melimpah ruah, serta stabilitas keamanan yang tetap terjaga di negeri kita. Sehingga kita hanya takut kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Mereka dengki kepada kita dan berusaha
menjerumuskan kita kepada kehan-curan yang mereka alami. Maka mereka pun mengajak orang berbuat seperti mereka, sekalipun mereka tidak mengatakannya terang-terangan. Namun mereka mencontohkannya melalui perbuatan untuk memperdaya kita. Mereka itulah juru fitnah yang terbesar!
                Hendaklah kita selalu waspada terhadap mereka. jangan sekali-kali memuliakan dan menghormati mereka, sebab sudah banyak orang yang menjadi korban, yang akhirnya condong kepada mereka dan  memuji-muji mereka.
                Orang-orang yang kembali dari negeri mereka pasti akan membenci kita. Membenci bapak-bapak dan pendahulunya. Melecehkan ibadah-ibadah yang kita lakukan. Dan semakin tinggilah kedudukan orang-orang kafir dan fasik itu dalam pandangan mereka.
Orang-orang itu mengatakan: "Kalian hanya pan-dai beribadah saja! Kalian hanya memiliki buku-buku agama saja! Kalian tidak bisa begini dan begitu! Semen-tara mereka berhasil menciptakan ini dan itu!
       Maka setan pun memperdaya mereka, sehingga orang-orang kafir itu dianggap lebih hebat daripada kita. Lebih pintar, lebih maju ilmu pengetahuannya, lebih kuat jasmaninya, lebih ahli dan lebih mahir daripada kita kaum muslimin. Mereka benar-benar tidak tahu bahwa orang-orang kafir itu memang disegerakan bagi mereka kenikmatan-kenikmatan di dunia. Mereka adalah orang-orang yang sibuk mengurus dunia serta meninggalkan akhirat, sebagaimana yang digambarkan Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam firmanNya:
"Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang
(kehidup-an) akhirat adalah lalai." (Ar-Rum: 7)
          Wahai saudaraku, janganlah sekali-kali engkau terpedaya dengan orang-orang seperti itu. Baik mereka mengajakmu dengan lisan ataupun dengan perbuatan. Misalnya seorang guru, ia mengajak dengan ucap-annya, ia hiasi perkataannya sehingga untaian katanya menarik untuk didengar. Namun di balik itu terdapat racun yang mematikan. Bahaya mereka
sangat besar. Hanya orang yang Allah beri keteguhan serta ilmu yang dapat lolos dari mereka. Namun bagi yang lemah aqidahnya, ia pasti terpedaya oleh mereka. Ia akan melatahi guru sesat tersebut. Atau minimal meyakini guru sesat itu punya kelebihan, punya keahlian, punya pangkat dan kedudukan yang tinggi. Ia akan menyan-jungnya mati-matian bahwa dia punya keahlian ini, punya kepandaian itu dan lain sebagainya. Lantas ia akan mengikuti dan membenarkan seluruh ucapannya. Hing-ga ia terseret kedalam ajakan guru sesat itu, maka kejahatan dan kerusakan semakin meluas. Itulah salah satu malapetaka akhir zaman!
           Demikian pula yang datang dengan gelar insinyur, arsitektur, developer, instruktur dan lainnya yang bergerak di bidangnya masing-masing. Orang-orang jahil memuji mereka, dengan mengatakan: "Mereka menguasai teknologi yang tidak kita kuasai, mereka ahli dalam memproduksi barang-barang dan merancang bangunan. Dengan demikian orang-orang jahil itu terpikat dan gan-drung kepada mereka. Tanpa menyadari bahwa mereka itu sebenarnya budak-budak dunia. Dan tanpa menya-dari juga bahwa mereka adalah orang kafir dan fasik yang tidak pernah ke masjid, tidak pernah menunaikan shalat dan tidak pernah membaca Al-Qur'an.
          Seorang muslim yang celaka tanpa terasa telah menyanjung-nyanjung mereka, terpedaya dengan mereka, memuji mereka dengan sifat amanah, faham, kuat dan bertanggung jawab dalam menangani tugas. Orang-orang jahil yang kepincut dengan mereka tidak menyadari bahwa sebenarnya mereka melakukan hal itu untuk memperdaya orang banyak, dan agar orang lain memuji mereka, sekalipun pekerjaan mereka serampangan.
Kita katakan kepada orang jahil itu: "Apabila Anda mengagumi mereka, belajarlah baik-baik seperti mereka lalu terapkan! Dengan catatan pelajarilah hal-hal yang bermanfaat saja dan hindarilah hal yang jelek-jelek. Sebab, bukankah Anda telah mengetahui bahwa niat mereka jelek? Meskipun mereka dikaruniai ilmu pengetahuan duniawi. Yang tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.
 
7-Promosi-promosi Terselubung
    Termasuk fitnah pada hari ini adalah promosi-promosi terselubung yang banyak disebarkan oleh orang-orang kafir dan fasik melalui saluran-saluran komunikasi (program-program radio dan televisi), majalah, koran, buku dan selebaran-selebaran. Orang-orang jahil kem-bali menjadi korban dengan mengkonsumsi barang-barang itu. Mereka pun percaya dengannya, meyakini kebenarannya dan akhirnya terpedaya lantas mereka sendiri pula yang menyiarkannya lewat program-program radio dan televisi. Mengagumi keyakinan dan ibadah orang-orang kafir dan fasik itu, serta mengagumi karya-karya mereka, dan menyebarkannya melalui tulisan-tulisan dan surat kabar serta mencantumkan di dalam-nya foto-foto hasil produksi mereka. Bahkan ada juga orang jahil yang memuji-muji aga-ma mereka dan mencela dienul Islam. Melecehkan aqidah dan budaya kita tanpa kita sadari. Orang-orang awam melahap semua itu melalui siaran-siaran radio yang mereka pancarkan dan bukubuku
serta koran-koran yang mereka sebarkan.
        Hal ini merupakan bahaya besar yang dapat menerkam setiap orang jahil yang tidak punya tameng ilmu untuk menangkis syubhat-syubhat tersebut. Bisa saja hatinya terkena syubhat-syubhat itu. Lalu ia akan sulit melepaskan diri darinya. Jika syubhat yang disebarkan oleh juru dakwah, kaum fasik dan orang-orang yang punya maksud jelek serta para ahli bid'ah melalui siaran-siaran dan buku-buku ini menimpa seseorang maka tidak akan selamat darinya kecuali orang yang memiliki ilmu pengetahuan yang cukup sehingga ia dapat membantahnya dan menjelaskan kesesatan-kesesatan yang terdapat di dalamnya kepada orang lain.
 
8-Berteman Dengan Anak-anak Nakal
           Termasuk fitnah pada zaman ini yang tidak kalah berbahaya adalah teman-teman yang nakal. Seorang insan bisa saja terpengaruh oleh temannya, ayahnya, saudaranya atau sahabatnya. Sehingga ia berbuat seperti tingkah laku teman-temannya itu. Sementara teman-temannya itu adalah anak-anak nakal yang selalu mengajaknya berbuat maksiat dan menjauhkannya dari ketaatan. Jelas, berteman dengan anak-anak nakal ini merupakan fitnah (bahaya) yang sangat besar. Jalan yang harus ditempuh seseorang untuk melepaskan dirinya dari bahaya ini adalah senantiasa bersa-bar dan terus memperteguh kesabarannya. Memegang teguh kebenaran walau bagaimana pun kondisinya. Hendaklah kamu bersabar apabila teman sekelasmu atau kawan sekantormu seorang yang fasik dan suka berbuat maksiat, lalu mengejekmu karena kamu meninggikan kain celanamu sementara ia musbil (melabuhkannya hingga melebihi mata kaki), atau mengejekmu karena kamu memanjangkan
jenggot sementara ia mencukurnya, atau mengejekmu karena kamu bersikap zuhud, wara', selalu menjaga shalat lima waktu berjama'ah, tidak menonton film dan tidak mendengar-kan musik. Bahkan kadang kala ia mengajakmu untuk meninggalkan ketaatan-ketaatan tersebut dan merayumu untuk menyertainya berbuat maksiat dan kemungkaran. Jika demikian kondisinya, hendaklah kamu bersabar dan jangan sekali-kali terpedaya dengannya. Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala memberikan jalan keluar bagimu. Karena teman-teman yang fasik itu -siapapun orangnya- memang sangat besar bahayanya, dia itu saudara, ayah, anak, teman, guru atau yang lainnya. Oleh sebab itu pula kamu harus ekstra hati-hati karena ucapan mereka sangat besar pengaruhnya. Seorang insan yang diberi karunia ilmu pengetahuan meyakini bahwa ia berada di atas kebenaran pasti
tidak akan terpedaya dan condong kepada mereka.
 
BAGAIMANA SOLUSINYA?
            Banyak sekali jalan keluar dari fitnah dan kemungkaran yang menghadang kaum muslimin pada zaman ini yang tidak mungkin disebutkan satu per satu di sini. Namun kita akan sebutkan satu di antaranya, yang merupakan solusi utama dan asas dalam menanggulanginya. Siapa saja yang menemui jalan ini ia pasti termasuk orang-orang yang selamat dengan izin Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Jalan itu adalah menuntut ilmu!
       Ilmu merupakan jalan keselamatan dari fitnah-fitnah tersebut. Yaitu ilmu yang benar sebagai faktor utama penjamin keselamatannya dari fitnah. Setiap orang yang mendapat karunia ilmu maka ia berada di bawah naungan cahaya terang yang berfungsi sebagai alat untuk mengetahui cara selamat dari kebinasaan. Ilmu yang dimaksud di sini adalah ma'rifatullah (mengenal Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan dalil-dalil), memahami syariatNya, hak-hakNya, hukum-hukumNya, janji-janji serta ancaman siksaNya. Pertama kali camkanlah bahwa engkau adalah hamba Allah. Engkau tidak diciptakanNya secara sia-sia. Ketahuilah bahwa Dia-lah Rabb yang telah menciptakan engkau, dan Dia-lah yang mengatur engkau. Renungilah hal itu dengan melihat tanda-tanda kebesaranNya baik yang tersirat maupun yang tersurat. Yakinilah bahwa Dialah Allah yang mengatur dan memi-liki engkau, yang telah mencurahkan nikmat nikmatNya yang tiada terhingga kepada engkau. Dan ketahuilah bahwa engkau hanyalah seorang makhluk. Milik Sang Pencipta dan Pemberi rezeki. Engkau sangat membutuhkanNya setiap saat. Dan engkau telah menikmati nikmat-nikmat-Nya yang terus mengalir tanpa henti.
Lalu sadarilah bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala telah membebani engkau, yaitu dengan perintah dan larangan-Nya. Dia memerintahkan dan mewajibkan engkau beribadah serta melarang dan memperingatkan engkau dari perkara haram supaya dijauhi. Perkara-perkara di atas wajib engkau ketahui. Pelajari dan tekunilah karena hal itu tidaklah sulit, bacalah Al-Qur'an dan kitab-kitab As-Sunnah seperti Shahih Al-Bukhari, Muslim dan lainnya. Di sana pasti engkau dapati pelipur lara dan obat yang manjur untuk setiap penyakit. Di sana juga engkau dapati kewa-jiban-kewajiban ibadah seperti shalat, thaharah (bersuci), dan rukun-rukun Islam lainnya. Di dalamnya juga terdapat keterangan bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala menjelaskan perkara-perkara mubah yang boleh kita nikmati untuk menyambung hidup, dan juga menjelaskan perkara-perkara haram dan sejenisnya.
           Jika hal itu sudah engkau fahami, maka selanjut-nya ketahuilah bahwa di sana ada pahala dan siksa. Yaitu bilamana seorang hamba menjaga kewajiban-kewajiban ibadah itu, niscaya Allah akan memberinya pahala. Demikian pula bila ia menjauhi perkara haram semata-mata melaksanakan perintah Allah Subhanahu wa Ta'ala, ia akan diberi olehNya pahala yang besar. Dan sadarilah bahwa jika ia melakukan perkara haram itu atau menganggapnya remeh (menganggapnya hal biasa sehingga dilanggarnya), niscaya Allah akan menyiksanya. Apabila ia meninggalkan kewajiban, maka Allah akan menyiksanya karena itu. Dan siksaan itu ada yang disegerakan ada pula yang ditangguhkan, sebagaimana juga halnya pahala. Bilamana semua itu telah engkau resapi, apakah engkau masih berbuat durhaka kepada Allah? Apakah engkau masih bisa terkicuh lantas berbuat maksiat? Maka dari itu, pelajarilah aqidah yang benar agar engkau tidak tertipu oleh juru-juru dakwah yang sesat, para ahli bid'ah, mu'tazilah dan lainnya. 
    Ketahuilah bahwa aqidahmu akan senatiasa lurus selama engkau mempelajari aqidah Ahlus Sunnah dan berpegang teguh dengannya. Selanjutnya setelah engkau mengetahui perintah dan larangan Allah Subhanahu wa Ta'ala, pahala dan siksaNya, janganlah sekali-kali engkau terima ajakan yang membatmu malas beribadah dan menjerumuskanmu ke dalam perbuatan haram. Anggaplah orang yang mengajak itu sebagai juru-juru kesasatan dan fitnah, yang merupakan cobaan Allah Subhanahu wa Ta'ala terhadap orang-orang jahil.
Mengetahui perkara-perkara tersebut merupakan asas dalam meraih keselamatan. Demikianlah terapi yang sangat gampang dan mudah. Dan alhamdulillah, di negara kita ini sarana dan prasarana menuntut ilmu mudah didapatkan.
Sarana-sarana itu sebagai berikut: 
*Majlis-majlis ilmu
         Banyak sekali majlis-majlis ilmu yang diasuh oleh para alim ulama, mereka membacakan kitab-kitab ilmu di sela-sela waktu kosong. Engkau dapat mempelajari aqidah, hukum, nasihat-nasihat dan ilmu-ilmu lainnya. Jangan terlalu terpaku dengan pelajaranmu di sekolah atau madrasah yang hanya diperoleh dari guru saja. Karena pada umumnya mereka juga tidak memberikan porsi materi pelajaran yang memadai. 
*Rajin bertanya
          Banyak sekali ulama-ulama yang dapat engkau hubungi melalui telepon ataupun bertatap muka langsung, supaya engkau dapat memetik ilmu yang bermanfaat dan benar melalui mereka.


 *Membaca Buku2 Karangan Ulama' Terdahulu 
           Banyak sekali buku-buku karangan ahli ilmu yang telah dicetak dan direvisi. Sehingga terjaga keakuratan dan kevalidan penisbatan buku-buku itu kepada penulis aslinya. Mereka adalah ulama pewaris nabi yang dapat dipegang ucapannya. Sandaran mereka adalah Al-Qur'an dan As-Sunnah. Engkau dapat memilikibuku-buku tersebut dan dapat engkau baca dan telaah. Dan pergunakanlah kitab-kitab syarah yang dapat dipercaya dan steril dari bid'ah-bid'ah untuk membantu memahaminya.  Dengan demikian aqidah dan ilmu yang kamu miliki dapat terjaga dan tidak ternodai.
             Janganlah engkau campur adukkan ilmu yang benar dengan ilmu yang menyimpang. Sebab di sana banyak sekali beredar buku-buku ahli bid'ah, seperti buku-buku Syi'ah Rafidhah, Al-Asy'ariyah, Mu'tazilah an lain-lain. Buku-buku tersebut ciri-cirinya sangat jelas, cukup engkau kenali penulisnya, apakah ia seorang syi'i rafidhi (penganut paham Syi'ah Rafidhah), atau seorang mu'tazili, asy'ari atau yang lainnya.
           Jauhilah buku-buku mereka dan jangan sekali-kali engkau membacanya. Jika engkau tidak mengetahui buku yang harus dibaca, tanyakanlah kepada para ulama, buku apa saja yang harus dibaca dan buku apa saja yang harus dijauhi. Semoga engkau menjadi seorang yang alim tentang Dienullah, insya Allah. Dengan jalur ilmu itulah engkau akan selamat dari segala fitnah dan kehancuran.
 
CAMKANLAH NASIHAT INI!
         Sesungguhnya jalan keselamatan hanyalah satu, yaitu jalan Allah yang lurus. Yang telah Allah sebutkan dalam firman-Nya: "Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya." (Al-An'am: 153)
Telah dinukil dari sebuah hadits shahih bahwa suatu ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menarik sebuah garis lurus, lalu menarik garis-garis ke kanan dan ke kiri dari garis yang lurus itu. Kemudian beliau bersabda: "Inilah (garis lurus) jalan Allah, sementara garis-garis ke kanan dan ke kiri itu adalah jalan-jalan setan" , kemudian beliau membaca ayat: "Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya." (HR. Ahmad dan Ad-Darimi) 
          Sebagian ulama mencontohkannya dengan pelepah kurma yang menjulur hingga ke tanah. Sekiranya seekor serangga merayap naik melalui batangnya, niscaya ia akan sampai ke atas dan dapat menikmati uah kurma yang diinginkannya, artinya ia telah selamat sampai ke tujuan. Lain ceritanya jika ia naik melalui pelepah daun kurma yang menjulur ke kanan dan ke kiri itu, baru saja ia mencoba merayap naik pasti sudah terjatuh. Batang itulah jalan Allah, sementara pelepah daun kurma itu adalah jalan-jalan setan. Jalan Allah yang merupakan shiratul mustaqim sangat jelas terlihat.
           Sekarang ini kita berada pada zaman serba asing, sebagaimana yang disebutkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dalam sebuah hadits: "Dienul Islam itu pada mulanya asing dan akan kembali menjadi asing sebagaimana pada awalnya, maka Thuubaa (kebahagian/Surga bernama thuu-baa) bagi para ghuraba'." (HR. Muslim)
             Ada beberapa riwayat lainnya yang menjelaskan pengertian ghuraba' sebagai berikut: "Mereka adalah orang-orang yang memelihara agamanya dari fitnah-fitnah." Setiap kali fitnah datang menimpa harta, diri dan agamanya, ia akan menjauh menyelamatkan diri. Hingga agamanya tetap terjaga. Sebagaimana disebutkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dalam sebuah hadits: "Pada akhir zaman nanti sebaik-baik harta kalian adalah kambing-kambing yang digembalakannya di puncak-puncak bukit dan tempat-tempat penggembalaan, menjauhkan diri dari fitnah-fitnah demi menjaga agamanya."
            Orang-orang yang menjaga nilai-nilai agamanya merekalah yang disebut ghuraba', dan merekalah yang mendapat doa dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam: "Berbahagialah para ghuraba'!" Seorang muslim hanya selamat dengan memegang teguh nilai-nilai agamanya, ia harus mendahulukannya daripada yang lain. Seperti yang disebutkan dalam hadits: "Apabila datang cobaan/fitnah menimpamu, maka korbankan hartamu. Jika tidak dapat diatasi dengan harta, maka korbankanlah dirimu. Jangan sekali-kali kamu korbankan agamamu!"
       Camkanlah nasihat tersebut, kami berharap semo-ga setiap muslim dapat mengembannya dengan sebaik-baiknya. Kita memohon kepada Allah semoga Dia mengajarkan kita ilmu yang bermanfaat, dan menjadikan kita orang-orang yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik diantaranya. Kita berlindung kepada-Nya dari ilmu yang tidak bermanfaat, hati yang tidak khusyu', doa yang tidak dikabulkan. Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala menunjukkan kebenaran kepada kita dan memberikan kekuatan bagi kita untuk mengikuti-nya. Dan menampakkan kebatilan kepada kita serta memberikan petunjuk kepada kita untuk menjauhinya. Tidak menjadikannya samar sehingga kita tersesat. Kita memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala semoga Dia mengokohkan agama ini yang merupakan pelindung segala urusan kita, dan menghindarkan kita dari fitnah-fitnah yang nyata maupun terselebung. Sesungguhnya Dia Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui. Shalawat dan salam semoga tercurah atas junjungan kita Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, atas keluarga dan segenap sahabat beliau.......