Tampilkan postingan dengan label Tazkiyatun Nufush. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tazkiyatun Nufush. Tampilkan semua postingan
Imam Syafi'i
Kamis, 22 Maret 2012
اَلْحَيَاءُ لاَ يَأْتِي إِلاَّ بِخَيْرٍ
"al Haya' ( Rasa malu) tidak datang kecuali dengan kebaikan."
Sesungguhnya di antara fenomena keseimbangan dan tanda-tanda kesempurnaan dalam tarbiyah bahwa engkau menemukan seorang mukmin yang kuat, teguh, bersifat malu, beradab dan tenang.
Malu yang terpuji adalah : perilaku yang muncul atas meninggalkan yang tercela.[1] Seperti yang didefinikan oleh Ibnu Hajar rahimahullah. Adapun taharuuj (merasa berat) dari amar ma'ruf dan nahi munkar, berani dalam kebenaran dan memahami agama, maka tidak termasuk sifat haya'`. Ini adalah sebagian yang disinggung oleh Ibnu Hajar rahimahullah saat membagi sifat haya'` kepada yang syar'i dan tidak. Ia berkata: 'Haya'` yang syar'i adalah yang terjadi di atas jalur membesarkan dan menghormati terhadap orang-orang besar, itulah yang terpuji. Adapun yang terjadi disebabkan meninggalkan perintah syara', maka ia adalah yang tercela dan bukan termasuk haya'` secara syara', ia pada dasarnya adalah sifat lemah dan hina.'[2]
Tidak sepantasnya bersifat haya'` dalam menuntut hak, mengajar orang yang jahil, bertanya tentang sesuatu yang tidak kita ketahui..... Mujahid rahimahullah berkata: 'Tidak bisa menuntut ilmu orang yang pemalu dan yang sombong. Aisyah radhiyallahu 'anha berkata: 'Sebaik-baik wanita adalah wanita anshar, rasa malu tidak menghalangi mereka untuk bertanya tentang masalah agama.'[3] Ummu Sulaim radhiyallahu 'anha bertanya dalam masalah-masalah kecil dalam hukum yang berkaitan dengan wanita, dan ia membuka pertanyaan dengan ucapannya: 'Ya Rasulullah, sesungguhnya Allah I tidak malu dari kebenaran.' Ibnu Hajar rahimahullah berkata: 'Maksudnya Dia I tidak menyuruh malu dalam kebenaran.'[4]
Dan siapa yang tidak diberikan sifat haya'` secara fitrah, ia dituntut untuk berusaha dan belajar dengannya. Terlebih lagi, sesungguhnya ia adalah akhlak utama bagi para pengikut agama ini. Sebagaimana disebutkan dalam hadits hasan:
إِنَّ لِكُلِّ دِيْنٍ خُلُقًا وَخُلُقُ اْلإِسْلاَمِ الحَيَاءُ
"Sesungguhnya bagi setiap agama ada akhlak dan akhlak Islam adalah sifat haya'`"[5]
Dan disebutkan bahwa haya'` termasuk sunnah para rasul dan ia termasuk bagian dari iman:
اَلْحَيَاءُ مِنَ اْلإِيْمَانِ وَاْلإِيْمَانُ فِى الْجَنَّةِ وَالْبَذَاءُ مِنَ الْجَفَاءِ وَالْجَفَاءُ فِى النَّارِ
"Haya'` termasuk bagian dari iman dan iman (balasannya) di surga. Dan ucapan cabul/jorok termasuk sifat tidak sopan dan tidak sopan itu di neraka."[6]
Dan kekasih dan panutan kita r (lebih pemalu dari pada gadis perawan dalam biliknya).[7] Setelah semua itu, apakah kita memilih sifat haya'` atau sifat jorok? Apakah kita berpakaian dengan iman atau tidak sopan? Dan apakah kita mengutamakan akhlak para penghuni surga atau akhlak para penghuni neraka?
Sungguh kaum jahiliyah –di atas kejahiliyahan mereka- merasa berat dari sebagian perbuatan jahat/buruk karena dorongan sifat haya'`. Di antaranya yang pernah terjadi bersama Abu Sufyah t di hadapan Heraqlius. Tatkala ia ditanya tentang Rasulullah r. Ia berkata: 'Demi Allah, jika bukan karena malu bahwa mereka menuduh aku berdusta niscaya aku berdusta tentang dia.'[8] Maka sifat haya'` menghalangi dia mengada-ada (berdusta) terhadap Rasulullah r agar dia tidak dikatakan pendusta. Di saat sekarang, kaum muslimin sangat membutuhkan akhlak ini dengan menjaga kata-kata dan menahan diri dari perbuatan keji dan syahwat dengan adanya rasa malu.
Engkau melihat laki-laki yang pemalu memerah mukanya apabila muncul darinya atau dari yang lain sesuatu yang berlawanan dari sifat haya'`: Rasulullah r lebih pemalu dari pada gadis perawan dalam biliknya dan apabila beliau tidak menyukai sesuatu hal itu terlihat dari wajahnya.'[9]
Dan termasuk sifat haya'` adalah yang terjadi karena membesarkan dan menghormati orang-orang besar: tidak adalah Ibnu Umar t ketika Rasulullah r bertanya kepada para sahabat: 'Sesungguhnya di antara pohon ada satu pohon yang tidak jatuh daunnya, dan ia seperti seorang muslim. Ceritakanlah kepadaku, apakah dia?'[10] Ibnu Umar t mengetahui bahwa ia adalah pohon kurma dan merasa malu untuk menjawab dan dia memberikan alasan rasa malunya –seperti dalam beberapa riwayat hadits- bahwa ia melihat dirinya adalah yang paling muda dan ia melihat ada Abu Bakar t dan Umar t yang tidak berbicara, maka ia tidak senang berbicara.'[11] Alangkah lapangnya dada masyarakat tersebut yang merasa malu padanya yang muda dari yang tua, dan manusia berinteraksi dengan saling menghormati dan menghargai.
Sifat haya'` itu sendiri merupakan penjaga dari terjerumus dalam perbuatan maksiat. Diriwayatkan bahwa seorang sahabat mencela saudaranya karena sifat malunya. Seolah-olah ia berkata: Sifat haya'` telah merugikanmu. Maka Rasulullah r bersabda:
دَعْهُ فَإِنَّ الْحَيَاءَ مِنَ اْلإِيْمَانِ
'Biarkanlah dia, sesungguhnya sifat haya' itu termasuk bagian dari iman.'[12]
Abu Ubaid al-Harawi berkata: maksudnya, sesungguhnya orang yang merasa malu terputus dengan sifat malunya dari perbuatan maksiat, maka jadilah ia seperti iman yang memutuskan di antaranya dan perbuatan maksiat.'[13] Karena itulah Rasulullah r menyebutkan secara umum dalam menjelaskan buah sifat haya'`, beliau bersabda:
اَلْحَيَاءُ لاَ يَأْتِي إِلاَّ بِخَيْرٍ
"Haya' (malu) tidak datang kecuali dengan kebaikan."
Dan beliau r menggambarkan bahwa ia adalah perhiasan bagi perilaku, beliau r bersabda:
مَاكَانَ الْفحْشُ فِى شَيْئٍ إِلاَّ شَانَهُ وَمَاكَانَ الْحَيَاءُ فِى شَيْئٍ إِلاَّ زَانَهُ
"Tidak adalah yang keji pada sesuatu kecuali ia mengotorinya dan tidak ada sifat sifat haya' pada sesuatu kecuali menghiasinya."[14]
Dan fenomena sifat malu dalam masyarakat yang terkadang menyeret kepada kejahatan tidak bisa dikategorikan sifat haya'` yang terpuji, karena sifat haya'` itu tidak datang kecuali dengan kebaikan. Dan sifat mudarah (menjilat, mencari muka) terhadap sebagian tradisi masyarakat yang menyimpang tidak bisa dianggap sifat haya'`, karena sifat haya' adalah hiasan bukan pengotor, sedangkan penyimpangan adalah inti perbuatan buruk dan kotor.
Sebagaimana sifat haya'` merupakan tatakrama bersama makhluk, maka ia merupakan adab (tatakrama) tertinggi bersama al-Khaliq (Allah I Yang Maha Pencipta). Disebutkan bahwa beberapa nabi seperti Adam u, Nuh u, dan Musa u diminta untuk memberi syafaat di hari kiamat dan umat manusia berkata kepada setiap orang dari mereka: 'Berikanlah syafaat kepada kami di sisi Rabb-mu sehingga Dia melapangkan kami dari tempat kami ini. Ia (Adam u) berkata: 'Aku tidak pantas –dan ia menyebutkan dosanya lalu merasa malu…Aku tidak pantas - dan ia (Nuh u) menyebutkan permintaannya kepada Rabb-nya yang tidak pantas lalu merasa malu…..Aku tidak pantas – dan ia (Musa u) menyebutkan pernah membunuh jiwa yang tidak berdosa lalu ia merasa malu kepada Rabb-nya…[15] Semuanya merasa berat dan dihalangi oleh rasa malu untuk berani meminta syafaat.
Dan karena perasaan seorang mukmin bahwa Allah I selalu melihatnya di atas semua kondisinya, maka sesungguhnya ia merasa malu dari Rabb. Karena itulah disebutkan dalam anjuran menutup aurat saat mandi di dalam kesendirian, sabda Nabi r: 'Allah I lebih pantas dirasakan malu dari-Nya dari pada manusia."[16] Orang yang merasa malu dari Rabb-nya bahwa auratnya terbuka dalam kesendiriannya sudah pasti sifat haya' (malu) menghalanginya dari perbuatan maksiat. Dan cukuplah dalam keutamaan sifat haya' bahwa para nabi terdahulu memperingatkan hilangnya sifat haya', agar seseorang tidak terjerumus dalam segala keburukan –dan tidak ada lagi penghalang baginya- seperti dalam hadits:
إِنَّ مِمَّا أَدْرَكَ النَّاسُ مِنْ كَلاَمِ النُّبُوَّةِ اْلأُوْلَى: إِذَا لَمْ تَسْتَحِ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ
"Sesungguhnya sebagian dari yang ditemukan manusia dari ucapan para nabi terdahulu: 'Apabila engkau tidak merasa malu maka lakukanlah apa yang engkau kehendaki."[17]
Dan di antara beberapa hal yang dipahami dari hadits ini:
- Di mana engkau merasa berat dan takut mendapat dosa maka berhentilah, dan di mana hati merasa tenang dan engkau tidak merasa berat maka lakukanlah apa yang engkau kehendaki.
- Orang yang sudah kehilangan sifat haya' maka ia melakukan apa yang dia kehendaki, dan hendaklah ia memperhatikan setelah itu apa yang dilakukan Allah I dengannya.
- Tidak aneh apa yang kita lihat dari kemungkaran akhlak apabila kita sudah mengetahui bahwa pendorong sifat haya' telah mati. Maka yang tidak bersifat malu –biasanya- melakukan apa yang dikehendakinya tanpa merasa malu kepada siapapun.
Kesimpulan:
- Sifat haya'` adalah perilaku yang muncul di atas meninggal yang buruk.
- Tidak menuntut ilmu atau menuntut hak bukan termasuk malu.
- Sesungguhnya bagi setiap agama ada akhlak dan akhlak islam adalah haya'.
- Umat jahiliyah mempunyai sifat haya' yang menghalangi mereka dari sebagian perbuatan buruk.
- Termasuk sifat haya' adalah menghormati yang lebih tua.
- Sifat haya' menjaga dari terjerumus dalam perbuatan maksiat.
- Di antara sifat haya' yang tertinggi adalah beradab bersama Allah I Yang Maha Pencipta. Al Haya' adalah pesan para nabi terdahulu.
[16] Dari Mu'allaqat al-Bukhari dalam kitab mandi, bab ke 20, Ibnu Hajar berkata dalam Fath 1/386: (Dihasankan oleh at-Tirmidzi dan dishahihkan oleh al-Hakim)
Label:
Tazkiyatun Nufush
Lokasi:
Jalan Grand Cirendeu, Indonesia
Imam Syafi'i
Kamis, 01 Maret 2012
Ada sebuah pesan menarik dari seorang ulama salaf, tu’rafuna fi ahlis-sama’ wa tukhfuna fi ahlil ardhi. Berusahalah agar kalian lebih dikenal oleh para penghuni langit, walau tak seorangpun penduduk bumi yang mengenal kalian. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyebut tipe manusia seperti ini dengan sebutan Al Akhfiya’; manusia-manusia tersembunyi. Beliau juga mengatakan Allah Azza wa Jalla sangat mencintai manusia tipe ini. Mereka tidak pernah peduli apa kata manusia tentang mereka, sebab -bagi mereka- yang penting adalah apa kata Allah tentang mereka. Itulah sebabnya, mereka tidak pernah mengalami kegilaan akan kemasyhuran.
Dan ini adalah kisah salah satu dari mereka. Ia hidup di masa tabi’in. Namun hingga hari ini tak satu buku sejarahpun yang dapat menyingkap identitas pria ini. Satu-satunya informasi tentangnya hanyalah bahwa ia seorang berkulit hitam dan bekerja sebagai tukang sepatu! Shahibul hikayat adalah seorang tabi’in bernama Muhammad ibn al-Munkadir –rahimahullah-.
Malam itu sudah terlalu malam dan gelap. Namun walaupun malam, udara terasa lebih panas dari biasannya. Tidak aneh memang, sebab hari-hari itu adalah hari-hari kemarau panjang di kota itu. Sudah satu tahun ini kota Madinah tidak pernah mendapat curahan air dari langit. Entah telah beberapa kali penduduk kota itu berkumpul untuk melakukan shalat istisqa’ demi meminta hujan. Namun hingga malam itu, tak setetes hujanpun yang turun menemui mereka.
Dan malam itu, seperti biasanya bila sepertiga akhir malam menjelang, Muhammad ibn al-Munkadir meninggalkan rumahnya dan bergegas menuju Masjid Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Usai mengerjakan sholatnya malam itu, ibn al-Munkadir bersandar ke salah satu tiang masjid. Tiba-tiba ia melihat sebuah sosok bergerak tidak jauh dari tempatnya bersandar. Ia mencoba untuk mengetahui siapa sosok itu. Agak sulit sebab malam sudah begitu gelap. Dengan agak susah payah ia melihat seorang pria berkulit hitam agak kecoklatan. Tapi ia sama sekali tidak mengenalnya. Pria itu membentangkan sebuah kain di lantai masjid itu dan pria itu sepertinya benar-benar merasa hanya ia sendiri dalam masjid. Ia tidak menyadari kehadiran Ibn al-Munkadir tidak jauh dari tempatnya berdiri.
Ia berdiri mengerjakan shalat dua raka’at. Usai itu, ia duduk bersimpuh. Begitu khusyu’ ia bermunajat. Dalam munajat itu, ia mengatakan, “Duhai Tuhanku, penduduk negeri Haram-Mu ini telah bermunajat dan memohon hujan pada-Mu namun Engkau tidak kunjung mengaruniakannya pada mereka. Duhai Tuhanku, sungguh aku mohon pada-Mu curahkanlah hujan itu untuk mereka.”
Ibn al-Munkadir yang mendengar munajat itu agak sedikit mencibir. “Dia pikir dirinya siapa mengatakan seperti itu,” gumamnya dalam hati. “Orang-orang shaleh seantero Madinah telah keluar untuk meminta hujan, namun tak kunjung dikabulkan… Lalu tiba-tiba, orang ini berdoa pula…,” gumamnya.
Namun sungguh di luar dugaan, belum lagi pria hitam itu menurunkan kedua tangannya, tiba-tiba saja suara guntur bergemuruh dari langit. Tetesan-tetesan air hujan menetes ke bumi. Sudah lama tidak begitu. Tak terkira betapa gembiranya pria itu. Segala pujian dan sanjungan ia ucapkan kepada Allah ta’ala. Namun tidak lama kemudian ia berkata dengan penuh ketawadhu’an, “Duhai Tuhanku, siapakah aku ini? Siapakah gerangan aku ini hingga Engkau berkenan mengabulkan doaku?”
Ibn al-Munkadir hanya tertegun di tempatnya memandang pria itu. Tak lama sesudah itu, pria tersebut bangkit kembali dan melanjutkan raka’at-raka’atnya. Hingga ketika saat subuh menjelang, sebelum kaum muslimin lainnya berdatangan, ia segera menyelesaikan witirnya. Ketika shalat subuh ditegakkan, ia masuk ke dalam shaf seolah-olah ia baru saja sampai di masjid itu. Usai mengerjakan shalat subuh, pria itu bergegas keluar meninggalkan masjid Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Jalan-jalan kota Madinah subuh itu digenangi air. Pria itu berjalan cepat sambil mengangkat kain bajunya. Menghilang. Ibn al-Munkadir yang berusaha mengikutinya kehilangan jejak. Ia benar-benar tidak tahu kemana pria hitam itu pergi.
Malam kembali merangkak semakin jauh. Malam ini, Muhammad ibn al-Munkadir kembali mendatangi Masjid Nabawi. Dan seperti malam kemarin, ia kembali melihat pria hitam itu. Persis seperti kemarin. Ia mengerjakan shalat malamnya hingga subuh menjelang. Dan ketika shalat ditegakkan, ia masuk ke dalam shaf seperti orang yang baru saja tiba di masjid itu. Ketika sang imam mengucapkan salam, pria itu tidak menunggu lama. Persis seperti kemarin, ia bergegas meninggalkan masjid itu. Dan Ibn al-Munkadir mengikutinya dari belakang. Ia ingin tahu siapa sebenarnya pria itu. Pria itu menuju ke sebuah lorong dan setibanya di sebuah rumah ia masuk ke dalamnya. “Hmm, rupanya di situ pria ini tinggal. Baiklah sebentar aku akan mengunjunginya.”
Matahari telah naik sepenggalan. Usai menyelesaikan shalat Dhuha-nya, Ibn al-Munkadir pun bergegas mendatangi rumah pria itu. Ternyata ia sedang sibuk mengerjakan sebuah sepatu. Begitu ia melihat Ibn al-Munkadir, ia segera mengenalinya. “Marhaban wahai Abu ‘Abdullah –begitulah Ibn al-Munkadir dipanggil-! Adakah yang bisa kubantu? Mungkin engkau ingin memesan sebuah alas kaki?” ujar pria itu menyambut kedatangan Ibn al-Munkadir.
Namun Ibn al-Munkadir justru menanyakan hal yang lain. “Bukankah engkau yang bersamaku di masjid kemarin malam itu?”
Dan tanpa diduga, wajah pria itu tampak sangat marah. Dengan nada suara yang tinggi ia berkata, “Apa urusanmu dengan itu semua, wahai Ibn al-Munkadir??!”
“Tampaknya ia sangat marah. Aku harus segera pergi dari sini,” ujar Ibn al-Munkadir dalam hati. Ia pun segera pamit meninggalkan rumah tukang sepatu itu.
Inilah malam ketiga sejak peristiwa itu. Seperti malam-malam sebelumnya, malam itu Ibn al-Munkadir berjalan menuju masjid Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Satu hal yang agak berbeda malam itu. Di hatinya ada harapan yang kuat untuk melihat pria tukang sepatu itu. Setibanya di masjid dan mengerjakan shalat seperti biasanya, ia bersandar sambil berharap pria itu kembali terlihat di depan matanya.
Namun malam semakin malam, pria yang ditunggu-tunggu tidak kunjung kelihatan. Ibn al-Munkadir tersadar. Ia telah melakukan kesalahan. “Inna lillah ! Apakah yang telah kulakukan??” itulah gumamnya saat menyadari kesalahan itu.
Dan usai shalat subuh, ia segera meninggalkan masjid itu dan mendatangi rumah sang tukang sepatu. Namun, yang ditemukan hanyalah pintu rumah yang terbuka dan tidak ada lagi pria itu. Penghuni rumah itu berkata,”Wahai Abu ‘Abdullah! Apa yang terjadi antara engkau dengan dia?”
“Apa yang terjadi?” Tanya Ibn al-Munkadir
“Ketika engkau keluar dari sini kemarin itu, ia segera mengumpulkan semua barangnya hingga tidak satupun yang tersisa. Lalu ia pergi dan kami tidak tahu kemana ia pergi hingga kini,” jelas penghuni rumah itu.
Dan sejak hari itu, Ibn al-Munkadir mengelilingi semua rumah yang ia ketahui di kota Madinah. Namun sia-sia belaka. Pencariannya tidak pernah membuahkan hasil. Dan hingga kini di abad 14 Hijriyah ini. Kita pun tidak pernah tahu siapa pria tukang sepatu itu. Jejak-jejaknya yang terhapus oleh hembusan angin sejarah seolah bergumam, “Biarlah, hanya Allah yang mengenalku…”
Sumber: Kerinduan Seorang Mujahid, Abul Miqdad al-Madany (Hal:103-108)
Label:
Tazkiyatun Nufush
Lokasi:
Bojonggede, Indonesia
Langganan:
Postingan (Atom)



