Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan
Imam Syafi'i Senin, 14 Maret 2011

Tatkala masih di bangku sekolah, aku hidup bersama kedua orangtuaku dalam lingkungan yang baik. Aku selalu mendengar do’a ibuku saat pulang dari keluyuran dan begadang malam. Demikian pula ayahku, ia selalu dalam shalatnya yang panjang. Aku heran, mengapa ayah shalat begitu lama, apalagi jika saat musim dingin yang menyengat tulang.
Aku sungguh heran. Bahkan hingga aku berkata kepada diri sendiri: “Alangkah sabarnya mereka…setiap hari begitu…benar-benar mengherankan!”
Aku belum tahu bahwa di situlah kebahagiaan orang mukmin, dan itulah shalat orang-orang pilihan…Mereka bangkit dari tempat tidumya untuk bermunajat kepada Allah.Setelah menjalani pendidikan militer, aku tumbuh sebagai pemuda yang matang. Tetapi diriku semakin jauh dari Allah. Padahal berbagai nasihat selalu kuterima dan kudengar dari waktu ke waktu.
Setelah tamat dari pendidikan, aku ditugaskan ke kota yang jauh dari kotaku. Perkenalanku dengan teman-teman sekerja membuatku agak ringan menanggung beban sebagai orang terasing. Di sana, aku tak mendengar lagi suara bacaan Al-Qur’an. Tak ada lagi suara ibu yang membangunkan dan menyuruhku shalat. Aku benar-benar hidup sendirian, jauh dari lingkungan keluarga yang dulu kami nikmati.
Aku ditugaskan mengatur lalu lintas di sebuah jalan tol. Di samping menjaga keamanan jalan, tugasku membantu orang-orang yang membutuhkan bantuan.
Pekejaan baruku sungguh menyenangkan. Aku lakukan tugas-tugasku dengan semangat dan dedikasi tinggi. Tetapi, hidupku bagai selalu diombang-ambingkan ombak.
Aku bingung dan sering melamun sendirian…banyak waktu luang…pengetahuanku terbatas.
Aku mulai jenuh…tak ada yang menuntunku di bidang agama. Aku sebatang kara. Hampir tiap hari yang kusaksikan hanya kecelakaan dan orang-orang yang mengadu kecopetan atau bentuk-bentult penganiayaan lain. Aku bosan dengan rutinitas. Sampai suatu hari terjadilah suatu peristiwa yang hingga kini tak pernah kulupakan.
Ketika itu, kami dengan seorang kawan sedang bertugas di sebuah pos jalan. Kami asyik ngobrol…tiba-tiba kami dikagetkan oleh suara benturan yang amat keras. Kami mengalihkan pandangan. Ternyata, sebuah mobil bertabrakan dengan mobil lain yang meluncur dari arah berlawanan. Kami segera berlari menuju tempat kejadian untuk menolong korban.
Kejadian yang sungguh tragis. Kami lihat dua awak salah satu mobil daIam kondisi sangat kritis. Keduanya segera kami keluarkan dari mobil lalu kami bujurkan di tanah.
Kami cepat-cepat menuju mobil satunya. Ternyata pengemudinya telah tewas dengan amat mengerikan. Kami kembali lagi kepada dua orang yang berada dalam kondisi koma. Temanku menuntun mereka mengucapkan kalimat syahadat.
Ucapkanlah “Laailaaha Illallaah…Laailaaha Illallaah…” perintah temanku.
Tetapi sungguh mengherankan, dari mulutnya malah meluncur lagu-lagu. Keadaan itu membuatku merinding.Temanku tampaknya sudah biasa menghadapi orang-orang yang sekarat…Kembali ia menuntun korban itu membaca syahadat.
Aku diam membisu. Aku tak berkutik dengan pandangan nanar. Seumur hidupku, aku belum pernah menyaksikan orang yang sedang sekarat, apalagi dengan kondisi seperti ini. Temanku terus menuntun keduanya mengulang-ulang bacaan syahadat. Tetapi… keduanya tetap terus saja melantunkan lagu.
Tak ada gunanya…

Suara lagunya semakin melemah…lemah dan lemah sekali. Orang pertama diam, tak bersuara lagi, disusul orang kedua. Tak ada gerak… keduanya telah meninggal dunia.
Kami segera membawa mereka ke dalam mobil.
Temanku menunduk, ia tak berbicara sepatah pun. Selama pejalanan hanya ada kebisuan, hening. Kesunyian pecah ketika temanku memulai bicara. Ia berbicara tentang hakikat kematian dan su’ul khatimah (kesudahan yang buruk). Ia berkata: “Manusia akan mengakhiri hidupnya dengan baik atau buruk. Kesudahan hidup itu biasanya pertanda dari apa yang dilakukan olehnya selama di dunia”. Ia bercerita panjang lebar padaku tentang berbagai kisah yang diriwayatkan dalam buku-buku Islam. Ia juga berbicara bagaimana seseorang akan mengakhiri hidupnya sesuai dengan masa lalunya secara lahir batin.
Perjalanan ke rumah sakit terasa singkat oleh pembicaraan kami tentang kematian. Pembicaraan itu makin sempurna gambarannya tatkala ingat bahwa kami sedang membawa mayat.
Tiba-tiba aku menjadi takut mati. Peristiwa ini benar-benar memberi pelajaran berharga bagiku. Hari itu, aku shalat kusyu’ sekali.

Tetapi perlahan-lahan aku mulai melupakan peristiwa itu.

Aku kembali pada kebiasaanku semula…

Aku seperti tak pemah menyaksikan apa yang menimpa dua orang yang tak kukenal beberapa waktu lalu. Tetapi sejak saat itu, aku memang benar-benar menjadi benci kepada yang namanya lagu-lagu. Aku tak mau tenggelam menikmatinya seperti sedia kala. Mungkin itu ada kaitannya dengan lagu yang pemah kudengar dari dua orang yang sedang sekarat dahulu.

* Kejadian Yang Menakjubkan…

Selang enam bulan dari peristiwa mengerikan itu…sebuah kejadian menakjubkan kembali terjadi di depan mataku.

Seseorang mengendarai mobilnya dengan pelan, tetapi tiba-tiba mobilnya mogok di sebuah terowongan menuju kota. Ia turun dari mobilnya untuk mengganti ban yang kempes. Ketika ia berdiri di belakang mobil untuk menurunkan ban serep, tiba-tiba sebuah mobil dengan kecepatan tinggi menabraknya dari arah belakang. Lelaki itu pun langsung tersungkur seketika.
Aku dengan seorang kawan, -bukan yang menemaniku pada peristiwa yang pertama- cepat-cepat menuju tempat kejadian. Dia kami bawa dengan mobil dan segera pula kami menghubungi rumah sakit agar langsung mendapat penanganan. Dia masih muda, dari tampangnya, ia kelihatan seorang yang ta’at menjalankan perintah agama.

Ketika mengangkatnya ke mobil, kami berdua cukup panik, sehingga tak sempat memperhatikan kalau ia menggumamkan sesuatu. Ketika kami membujurkannya di dalam mobil, kami baru bisa membedakan suara yang keluar dari mulutnya.
Ia melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an…dengan suara amat lemah.

“Subhanallah! ” dalam kondisi kritis seperti , ia masih sempat melantunkan ayat-ayat suci Al-Quran? Darah mengguyur seluruh pakaiannya; tulang-tulangnya patah, bahkan ia hampir mati.

Dalam kondisi seperti itu, ia terus melantunkan ayat-ayat Al-Qur’an dengan suaranya yang merdu. Selama hidup aku tak pernah mendengar suara bacaan Al Quran seindah itu. Dalam batin aku bergumam sendirian: “Aku akan menuntun membaca syahadat sebagaimana yang dilakukan oleh temanku terdahulu… apalagi aku Sudah punya pengalaman,” aku meyakinkan diriku sendiri.
Aku dan kawanku seperti kena hipnotis mendengarkan suara bacaan Al-Qur’an yang merdu itu. Sekonyong-konyong tubuhku merinding menjalar dan menyelusup ke setiap rongga.
Tiba-tiba suara itu berhenti. Aku menoleh ke belakang. Kusaksikan dia mengacungkan jari telunjuknya lalu bersyahadat. Kepalanya terkulai, aku melompat ke belakang. Kupegang tangannya, detak jantungnya nafasnya, tidak ada yang terasa. Dia telah meninggal dunia.
Aku lalu memandanginya lekat-lekat, air mataku menetes, kusembunyikan tangisku, takut diketahui kawanku. Kukabarkan kepada kawanku kalau pemuda itu telah  wafat. Kawanku tak kuasa menahan tangisnya. Demikian pula halnya dengan diriku. Aku terus menangis, air mataku deras mengalir. Suasana dalam mobil betul-betul sangat mengharukan.
Sampai di rumah sakit…

Kepada orang-orang di sana kami mengabarkan perihal kematian pemuda itu dan peristiwa menjelang kematiannya yang menakjubkan. Banyak orang yang terpengaruh dengan kisah kami, sehingga tak sedikit yang meneteskan air mata. Salah seorang dari mereka, demi mendengar kisahnya, segera menghampiri jenazah dan mencium keningnya.
Semua orang yang hadir memutuskan untuk tidak beranjak sebelum mengetahui secara pasti kapan jenazah akan dishalatkan. Mereka ingin memberi penghormatan terakhir kepada jenazah, semua ingin ikut menyalatinya.
Salah seorang petugas tumah sakit menghubungi rumah almarhum. Kami ikut mengantarkan jenazah hingga ke rumah keluarganya. Salah seorang saudaranya mengisahkan ketika kecelakaan, sebetulnya almarhum hendak menjenguk neneknya di desa. Pekerjaan itu rutin ia lakukan setiap hari Senin. Di sana, almarhum juga menyantuni para janda, anak yatim dan orang-orang miskin. Ketika tejadi kecelakaan, mobilnya penuh dengan beras, gula, buah-buahan dan barang-barang kebutuhan pokok lainnya. Ia juga tak lupa membawa buku-buku agama dan kaset-kaset pengajian. Semua itu untuk dibagi-bagikan kepada orang-orang yang ia santuni. Bahkan ia juga membawa permen untuk dibagi-bagikan kepada anak-anak kecil.
Bila ada yang mengeluhkan-padanya tentang kejenuhan dalam pejalanan, ia menjawab dengan halus. “Justru saya memanfaatkan waktu perjalananku dengan menghafal dan mengulang-ulang bacaan Al-Qur’an, juga dengan mendengarkan kaset-kaset pengajian, aku mengharap ridha Allah pada setiap langkah kaki yang aku ayunkan,” kata almarhum.
Aku ikut menyalati jenazah dan mengantarnya sampai ke kuburan.
Dalam liang lahat yang sempit, almarhum dikebumikan. Wajahnya dihadapkan ke kiblat.


“Dengan nama Allah dan atas ngama Rasulullah”.
Pelan-pelan, kami menimbuninya dengan tanah…Mintalah kepada Allah keteguhan hati saudaramu, sesungguhnya dia akan ditanya…
Almarhum menghadapi hari pertamanya dari hari-hari akhirat…
Dan aku… sungguh seakan-akan sedang menghadapi hari pertamaku di dunia. Aku benar-benar bertaubat dari kebiasaan burukku. Mudah-mudahan Allah mengampuni dosa-dosaku di masa lalu dan meneguhkanku untuk tetap mentaatinya, memberiku kesudahan hidup yang baik (khusnul khatimah) serta menjadikan kuburanku dan kuburan kaum muslimin sebagai taman-taman Surga. Amin…(Azzamul Qaadim, hal 36-42)

Sumber : [“Saudariku Apa yang Menghalangimu Untuk Berhijab”; judul asli Kesudahan yang Berlawanan; Asy Syaikh Abdul Hamid Al-Bilaly; Penerbit : Akafa Press Hal. 48]

Imam Syafi'i Minggu, 13 Maret 2011


Suatu sore saya sedang bersantai dirumah sambil menonton televisi dan tangan saya menekan tombol remote untuk mencari program yang menarik. Lalu saya pun berhenti disebuah program yang digemari banyak orang. Di program tersebut manampilkan model yang akan meminta tolong pada seseorang untuk melakukan sesuatu atau membeli barang yang ditawarkan demi memenuhi kebutuhan si model itu sendiri, entah untuk beli beras, atau berobat. Lalu orang yang menolong tadi akan diberikan sejumlah uang sebagai tanda kasih karena sudah menolong dengan ikhlas.
Pada episode kali itu menampilkan seorang model nenek-nenek tua yang menjual seplastik cabai demi membeli obat cucunya yang sakit dengan harga Rp 30.000,00. Setelah berkeliling cukup lama, akhirnya sang model bertemu dengan seorang wanita yang juga tua umurnya sedang menjual toples-toples plastik. Setelah menawarkan sekantung cabai dengan memelas, akhirnya si ibu penjual toples bersedia membelinya dengan harga Rp 30.000,00.
Selang beberapa lama, seorang tim acara dengan menyamar sebagai tukang becak mendekati ibu penjual toples kemudian bercakap-cakap dengan si ibu yang kira-kira begini:
“Ibu jual toples ya?”
“Iya”
“Sudah berapa tahun?”
“Satu tahun”
“Suami Ibu?”
“Kerja jadi buruh, sehari diberi upah Rp 7.500 bila sedang sepi. Saya sendiri diberi Rp 10.000 sehari oleh majikan saya yang punya dagangan toples ini” katanya sambil menunjuk toples-toples.
“Anak-anak Ibu?”
Ibu itu terdiam mendengar kata ‘anak-anak’ lantas matanya berkaca-kaca dan berkata, “Ada dua, yang tua menganggur dan yang kecil jadi anak jalanan.”
Si tukang becak berkata sambil menepuk bahu ibu tersebut “Sabar ya Bu..”
“Mas, saya jadi sedih bila bercerita seperti ini, karena ingat sama anak saya yang selalu meminta dan memarahi orangtuanya yang bekerja keras demi mereka”
Saya terdiam dan terbawa suasana pada adegan tersebut.
Si tukang becak bertanya lagi, “Ibu punya rumah?”
“Ada, separuh. Separuhnya lagi dijual anak saya untuk membayar hutang, karena hutang anak saya banyak.” Air mata si ibu makin menderas dan saya makin merasa terharu.
Tukang becak mengelus punggung si ibu dan bertanya, “Apa Ibu menyesal?”
“Iya Mas, saya menyesal punya anak seperti mereka, lebih baik tidak punya anak saja sekalian. Saya selalu dimarahi karena tidak bisa memberi mereka uang. Bagaimana bisa? Untuk makan saja susah, bahkan rumah saya tidak bisa digunakan untuk berteduh disaat hujan karena atapnya bocor. Untuk mendadani rumah saja rasanya susah sekali.” Tangis si ibu makin menderas dan saya hampir menangis mendengar kata-kata sang ibu. Apalagi pada kata-kata “menyesal punya anak seperti mereka”, jujur saja tubuh saya jadi lemas saat itu karena bisa dibayangkan bagaimana sakitnya perasaan si ibu kepada anaknya sampai dapat berbicara seperti itu.
Saya teringat pada episode lain, ketika ada suami-istri berumur senja yang berprofesi menjadi pemulung sambil mendorong gerobak menolong seseorang (saya lupa minta tolong apa, karena episode ini sudah sekitar 3 bulan lalu). Tim acara tersebut juga mewawancarai suami-istri itu dan kata-kata yang meluncur dari bibir kakek-nenek tersebut menghentak hati saya hingga saya menitikkan air mata. Kira–kira begini:
“Nduk, mbok ya kamu pulang, nengok orangtuamu. Moso’ ya kamu tega tho menelantarkan orangtuamu sendiri, rumah Bapakpun kamu jual untuk kamu bagi-bagi sama sodara-sodaramu. Ibu sama Bapak ini sekarang tinggal di gerobak, Nak. Di jalanan. Bapak sama Ibu minta maaf sama kamu, kalo Bapak-Ibu punya salah. Nduk, Ibumu ini sekarang lagi sakit jantung, kadang kalo kumat sakitnya bapak dorong di gerobak ini (sambil menunjuk gerobaknya). Ibu sama bapak gak punya duit untuk berobat, butuh duit banyak, malahan untuk periksa saja ndak bisa. Mbok ya sini, tengokin Ibu sama Bapakmu yang udah tua.”
Waktu itu badan saya langsung lemas sedangkan air mata membasahi pipi lantas saya langsung lari memeluk ibu saya sambil berkata “Bu, maafin Anis, ya.” Terang saja ibu saya bingung. Kemudian saya tarik ibu saya kedepan televisi sambil saya ceritakan adegan di acara tadi. Ibu saya pun tersenyum dan mencium pipi saya lalu berkata,“Anak tidak akan bisa apa-apa kalau tidak ada orangtua. Siapa yang dulu nyebokin kamu waktu kamu pup, yang bikin susu kalau kamu haus, yang nyuci baju kamu kalau kamu ngompol, mengajari kamu jalan, mengajari kamu bicara, cari uang untuk makan, cari uang untuk bayar sekolah? Apalagi, siapa yang memberi kasih sayang kalo bukan orangtua? Kasih sayang orang lain pasti beda dengan kasih sayangnya orangtua. Giliran anak sudah besar, sudah bisa membantah omongan Ibunya, malah ngelawan. Padahal siapa yang menghidupi anak kalau bukan Ibu-Bapaknya?”
Saya hanya bisa tersenyum dan mencium pipi ibuku.
Saya jadi ingat bila saya suka mengeluh ini-itu bila disuruh orangtua. Masih suka merasa berat bila harus sekolah full day ke pondok di Lampung. Padahal jelas-jelas orangtua saya menyekolahkan ke pondok demi kebaikan saya sendiri. Apalagi ayahku tetap berjuang melawan sakit demi membiayai saya dan adik sekolah dan masih banyak perjuangan orangtua yang tidak dapat saya ceritakan saking banyaknya.
Jazakallah khairan katsiro untuk kedua orangtuaku yang selalu bersabar merawat kami, anak-anaknya dengan rasa kasih yang tiada terhingga. Bahkan kami, anak-anakmu tidak tahu caranya harus membalas dengan cara apa. Maafkanlah kami, bila setiap hari telah membuatmu letih lahir bathin mengurusi kami. Maafkanlah kami, bilamana kata-kata kami membuat senyumanmu dilunturkan airmata. Maafkan kami bilamana keringatmu dibalas dengan airmata. Abi, Ibu, maafkan segala perbuatan kami yang terlalu, dan bahkan kami sering tidak menyadari kesalahan-kesalahan kami kepadamu yang telah menggoreskan luka dihatimu.
Yaa Allah, ampunilah dosaku dan dosa orangtuaku, sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangiku sewaktu kecil, berikanlah mereka kebahagiaan dikala usia mereka senja. Berikanlah kami, anak-anaknya kesempatan untuk merawat mereka dikala mereka renta dan bangunkanlah istana disyurgaMu untuk mereka. Yaa Allah, kumpulkanlah kami sekeluarga dijannahMu, sesungguhnya tiada akhir yang paling bahagia selain berkumpul di syurga bersama orang-orang terpilihMu .
Amin Yaa Robbal ‘alamin.